Rabu, 27 April 2016

SABAR PENOPANG ASMANYA


Malam yang amat dingin kini terlarut dalam kegelapan bersama derasnya angin yang berhembus pekat menusuk tubuh seorang gadis pengidap asma itu , sesekali dadanya terbungkam , berdetak amat kencang mencari udara yang mampu meringankan beban pernapasannya ,iklimah merasakan begitu berat, hingga ia bernafas dengan mulut  dan mengeluarkan bunyi pertanda meminta pertolongan akan nafasnya yang tiba-tiba hilang entah kemana . iklimah mencoba bertahan untuk tak bergantung pada obat yang ia milikki . namun cara itu tak mampu melukiskan senyuman pada dirinya , yang membuat nafasnya menjadi ringan layaknya orang normal .
 iklimah tak pernah patah semangat ,dirinya selalu mencoba untuk menjadi seperti orang normal yang mampu bernafas tanpa sesekali kambuh ,namun seringkali iklimah bertingkah layaknya lilin ,ketika ia mencoba untuk menjadi terang layaknya lampu, tak ia sadari usahanya untuk membuat cahaya seterang lampu membuat dirinya meleleh tak berdaya .
semangat iklimah yang begitu tinggi membuat dirinya lupa akan kemampuan raganya yang belum bisa  hidup normal layak umi dan abinya . iklimah hanya mampu berdoa dan meyakini bahwa dirinya akan terbebas dari asma yang melukiskan kepahitan dalam hidupnya . iklimah tak ingin meneteskan air mata di hadapan umi dan abinya .Ketika dirinya sedang terisak dengan nafasnya yang berat.
“umi,usiaku tlah mencapai 19 tahun, namun asmaku semakin akut tak hilang sedikitpun .”ucap iklimah dengan senyum menahan nafas yang amat berat ia rasakan .
“semua penyakit itu diturunkan bersama obatnya, sebagai penyembuhan. Tugasmu hanya bersabar ,berdoa dan meyakini bahwa kau akan sembuh ,sayang !!!!!!!!!!” jawab umi dengan nasihat yang selalu diucapkan pada iklimah, perlahan tangan umi mengusap rambut iklimah dngan kasih sayang .
“umi kapan hidup limah akan terasa manis layaknya madu!”ujar limah dengan nafas yang masih terputus-putus.
“limah,semua ada waktunya .beristirahatlah, esok kau akan berobat ke sumberejo bersama umi dan abi.”jelas umi yang hendak memberhentikan bicaranya yang terdengar sangatberat keluar dari kedua belah bibirnya .
Iklimah hanya mampu tersenyum menatap umi yang masih ada di samping tubuhnya yang terkapar tak berdaya .
Iklimah mulai merasa tenang dan perlahan reda karena bantuan obat asal American yang ia minum . Matanya mulai lelah setelah setengah jam menahan rasa sakit di dada yang tak sekali dua kali ia rasakan dengan pahit. Terpejamlah iklimah dalam pelukan angin malm yang berhembus amat kencang menusujk tubuhnya .
Umi mengulurkan sehelai kain tebal ke seluruh tubuhnya yang telah terlapis switter coklat pember kehangatan dalam tubuhnya. Umi pergi dari kamar iklimah setelah memberikan satu kecupan pada malam indah dalam lelapnya pejaman mata iklimah .
Esok iklimah akan berangkat menuju sumberejo untuk melakukan pengobatan , selama beberapa hari  tempat tinggalnya di Jakarta akan ia tinggalkan termasuk sosok rey yang saat ini selalu mendambakan iklimah .
Mata iklimah yang terpejam dengan lelah tak mampu terus menutup ketika waktu menunjukkan pukul 02.30 pagi , kegelapan sebelum datang mentari tak pernah lupa dengan raga iklimah yang lemah lesu , doa penutup matannya tak pernah lelah untuk mencoba membangunkan iklimah dalam tidur pulasnya .raganya yang masih lelah tak berdaya bangkit untuk mengadu dan berdoa pada sang pencipta . ia uraikan semua lantunan harapannya dalam beberapa rakaat di sepertiga malam itu. Ia sertakan air mata yang menjadi wali akan sebuah cita-cita iklimah untuk sebuah kesembuan dalam dirinya .
19 tahun ia rasakan pahit di dada, dengan bernafas menggunakan alat bantu pernafasan miliknya. Namun dengan berpegang teguh pada rasa sabar iklimah tumbuh dengan semangat hidup yang tinggi.
Ia tak pernah lelah menantikan kesembuhan pada dirinya pada suatu saat nanti.
“obatku ada padamu ya rabb. Ragaku adalah milikmu, dan cintaku adalah karyamu, kuharapkan akan melebur menjadi satu dalam diriku,sebuah kesembuhan,kekuatan dan kepuasan batinku untuk seseorang yang kusayangi, entah dimana? Antarkan dirinya pada diriku untuk meleburkan kisah yang membuatku tersiksa sepedih ini. Kau adalah asyifa ku meyakini kesembuhanku ada waktunya ya rabb.”jelas iklimah dalam doa disepertiga malamnya.
Ia mengadu diatas sejadah merah tebal miliknya. Ditenah dinginya malam. Iklimah tenang bersama kain solat diatas sajadah merah yang menghangatkan dirinya. Dalam doa ia meminta kesembuhan dan kekuatan serta kisah cinta yang ia jalani, ia harapkan luntur dengan adanya pendamping baru dihatinya. Usahanya untuk menyayangi rey tak mampu teruraikan dengan tenang. Ia tak kuasa menahan dirinya untuk terus mengalirkan air mata karena kesakitan dalam batinya.
Iklimah hanya mampu menyerahkan dirinya dalam doa harapanya. Keputusan sang pencipta adalah yang terbaik untuk dirinya.
Kesabaran yang iklimah genggam tak pernah luntur hingga saat ini. Dirinya terus mengukir bintang diatas langit.
karya : MAR’ATUSH SHOLIHAH
1...3 4 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendaftaran Online Santri Baru TP. 2020/2021

Assalamu'alaikum bpk/ibu calon santri Baru ponpes madarijul ulum Bandar Lampung. Berdasarkan hasil rapat pengurus ponpes madarijul ul...