Malam yang amat
dingin kini terlarut dalam kegelapan bersama derasnya angin yang berhembus
pekat menusuk tubuh seorang gadis pengidap asma itu , sesekali dadanya terbungkam
, berdetak amat kencang mencari udara yang mampu meringankan beban
pernapasannya ,iklimah merasakan begitu berat, hingga ia bernafas dengan
mulut dan mengeluarkan bunyi pertanda
meminta pertolongan akan nafasnya yang tiba-tiba hilang entah kemana . iklimah
mencoba bertahan untuk tak bergantung pada obat yang ia milikki . namun cara
itu tak mampu melukiskan senyuman pada dirinya , yang membuat nafasnya menjadi
ringan layaknya orang normal .
iklimah tak pernah patah semangat ,dirinya
selalu mencoba untuk menjadi seperti orang normal yang mampu bernafas tanpa
sesekali kambuh ,namun seringkali iklimah bertingkah layaknya lilin ,ketika ia
mencoba untuk menjadi terang layaknya lampu, tak ia sadari usahanya untuk
membuat cahaya seterang lampu membuat dirinya meleleh tak berdaya .
semangat iklimah
yang begitu tinggi membuat dirinya lupa akan kemampuan raganya yang belum
bisa hidup normal layak umi dan abinya .
iklimah hanya mampu berdoa dan meyakini bahwa dirinya akan terbebas dari asma
yang melukiskan kepahitan dalam hidupnya . iklimah tak ingin meneteskan air
mata di hadapan umi dan abinya .Ketika dirinya sedang terisak dengan nafasnya
yang berat.
“umi,usiaku tlah
mencapai 19 tahun, namun asmaku semakin akut tak hilang sedikitpun .”ucap
iklimah dengan senyum menahan nafas yang amat berat ia rasakan .
“semua penyakit
itu diturunkan bersama obatnya, sebagai penyembuhan. Tugasmu hanya bersabar
,berdoa dan meyakini bahwa kau akan sembuh ,sayang !!!!!!!!!!” jawab umi dengan
nasihat yang selalu diucapkan pada iklimah, perlahan tangan umi mengusap rambut
iklimah dngan kasih sayang .
“umi kapan hidup
limah akan terasa manis layaknya madu!”ujar limah dengan nafas yang masih
terputus-putus.
“limah,semua ada
waktunya .beristirahatlah, esok kau akan berobat ke sumberejo bersama umi dan
abi.”jelas umi yang hendak memberhentikan bicaranya yang terdengar sangatberat
keluar dari kedua belah bibirnya .
Iklimah hanya
mampu tersenyum menatap umi yang masih ada di samping tubuhnya yang terkapar
tak berdaya .
Iklimah mulai
merasa tenang dan perlahan reda karena bantuan obat asal American yang ia minum
. Matanya mulai lelah setelah setengah jam menahan rasa sakit di dada yang tak
sekali dua kali ia rasakan dengan pahit. Terpejamlah iklimah dalam pelukan
angin malm yang berhembus amat kencang menusujk tubuhnya .
Umi mengulurkan
sehelai kain tebal ke seluruh tubuhnya yang telah terlapis switter coklat
pember kehangatan dalam tubuhnya. Umi pergi dari kamar iklimah setelah
memberikan satu kecupan pada malam indah dalam lelapnya pejaman mata iklimah .
Esok iklimah
akan berangkat menuju sumberejo untuk melakukan pengobatan , selama beberapa
hari tempat tinggalnya di Jakarta akan
ia tinggalkan termasuk sosok rey yang saat ini selalu mendambakan iklimah .
Mata iklimah
yang terpejam dengan lelah tak mampu terus menutup ketika waktu menunjukkan
pukul 02.30 pagi , kegelapan sebelum datang mentari tak pernah lupa dengan raga
iklimah yang lemah lesu , doa penutup matannya tak pernah lelah untuk mencoba
membangunkan iklimah dalam tidur pulasnya .raganya yang masih lelah tak berdaya
bangkit untuk mengadu dan berdoa pada sang pencipta . ia uraikan semua lantunan
harapannya dalam beberapa rakaat di sepertiga malam itu. Ia sertakan air mata
yang menjadi wali akan sebuah cita-cita iklimah untuk sebuah kesembuan dalam
dirinya .
19 tahun ia
rasakan pahit di dada, dengan bernafas menggunakan alat bantu pernafasan
miliknya. Namun dengan berpegang teguh pada rasa sabar iklimah tumbuh dengan
semangat hidup yang tinggi.
Ia tak pernah
lelah menantikan kesembuhan pada dirinya pada suatu saat nanti.
“obatku ada
padamu ya rabb. Ragaku adalah milikmu, dan cintaku adalah karyamu, kuharapkan
akan melebur menjadi satu dalam diriku,sebuah kesembuhan,kekuatan dan kepuasan
batinku untuk seseorang yang kusayangi, entah dimana? Antarkan dirinya pada
diriku untuk meleburkan kisah yang membuatku tersiksa sepedih ini. Kau adalah
asyifa ku meyakini kesembuhanku ada waktunya ya rabb.”jelas iklimah dalam doa
disepertiga malamnya.
Ia mengadu
diatas sejadah merah tebal miliknya. Ditenah dinginya malam. Iklimah tenang
bersama kain solat diatas sajadah merah yang menghangatkan dirinya. Dalam doa
ia meminta kesembuhan dan kekuatan serta kisah cinta yang ia jalani, ia
harapkan luntur dengan adanya pendamping baru dihatinya. Usahanya untuk
menyayangi rey tak mampu teruraikan dengan tenang. Ia tak kuasa menahan dirinya
untuk terus mengalirkan air mata karena kesakitan dalam batinya.
Iklimah hanya
mampu menyerahkan dirinya dalam doa harapanya. Keputusan sang pencipta adalah
yang terbaik untuk dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar