Rabu, 27 April 2016

ADAT PEMILIK OBAT


Sumberejo, daerah yang masih terlumur oleh adat tradisioanalnya menyimpan setitik tempat pengobatan dengan jalan islam, beberapa terapi yang dilakukan beberapa kali, mewariskan kesembuhan yang berkala.
Hari itu terasa amat semangat membakar jiwa iklimah untuk menjemout setitik pengoabatan penuntun jalan kesembuhanya. Mobil dipanaskan dari pukul lima dini hari, iklimah pun bersiap menghias dirinya dengan pakaian tertutup rapih dengan hijab merah muad yang membuat wajahnya semakin bercahaya. Kantung mata yang hitam bibir yang terliahat puct dan raganya yang lemah lesu, sirna seketika dengan sebuah senyuman manis dibibir iklimah.
Paginya telah disediakan reyhan aditia untuk menuntun keberangkatanya. Bibirnya mengucap salam didepan daun pintu rumah iklimah. Seketika iklimah menyapa dengan senyum simpul diwajahnya. Umi dan abi pun ikut menyapa dari belakang, dengan cepat rey meraih tangan umi dan abi, ia kecup layaknya orang tua sendiri,
“apakah kau akan ikut dengan kami !” Tanya abi pada rey yang baru saja mencium tanganya.
“tidak bi, aku hanya bisa mendoakan iklimah sembuh dengan ini.” Ucap rey yang yerlihat akrab dengan abi layaknya ayah sendiri.
“yasudah, kami berangkat!” ujar abi sambil melangkah maju mendekati mobil dan menaikinya. Iklimah tak beranjak, dirinya masih terdiam didekat rey.
“jaga dirimu baik­-baik, aku yakin kau akan sembuh.”   Rey meyakini iklimah untuk sebuah kesembuhan yang kan dijalaninya .
“insyaallah .”jawab singkat iklimah  .
Langkahnya diiring rey hingga dirinya menaikki mobil yang bertujuan ke sumberejo .
Hati iklimah selalu menggerutu ketika dirinya telah bertemu dengan rey ,ia merasa heran dan bingung dengan dirinya ,dengan apa yang terjadi .
“ya rabb , mengapa hati ini amat sulit menerimanya ,mengapa hati ini selalu menolak akan dirinya menjadi kekasihku ,apa yang ada diantara kami .”ucapnya iklimah sendiri dengan duduk  menyender di dalam mobil dirinya berbisik sendiri .
Pikirannya saat itu langsung tertuju pada reyhan aditia yang hanya memiliki seorang ibu . ia ditinggal ayahnya ketika berumur lima tahun . rey adalah anak tunggal ,ia tak pernah mengetahui wajah ayahnya karena setiap ia meminta ibunya untuk menceritakan sosok ayahnya , air mata ibunya selslu menetes dengan derasnya .
Ia tak kuasa melihat ibunya yang seperti itu . rey merasa nyaman hidup dengan keluarga iklimah ,dirinya merasa mereka adalah keluarga besarnya .
“iklimah ,limah….!”panggil umi dari depan mobil .
“iya mi..”iklimah menjawab dengan kagetnya .ia kabur dalam lamunannya tentang rey .
“apa yang kau pikirkan ?..tanya lagi umi yang hanya terdengar suaranya  .
“tidak umi ,apakah perjalanannya masih jauh ,umi !”Tanya iklimahdengan nada lembutnya  .
“dua jam lagi mungkin .”jawab abi dengan singkat pada iklimah .
Perjalanan yang jauh membuat iklimah lelah dan tertidur pulas di dalam mobil .abi terus memutarbalikkan setirnya hingga ke sumberejo .
Dua jam perjalanan di tempuhnya ,dua jam pula iklimah tertidur dengan pulasnya . mobil terhenti mata iklimahpun terbuka dengan sendirinya terlihat dari sudut kaca mobil sebuah rumah adat dengan halamannya yang masih tumbuh pohon-pohon besar yang membuat sekelilingnya asri dan bersih , hijaunya dedaunan membuat semua mata terbuka ketika melihat keindahannya .
Perlahan pintu mobl dibuka dan mulai menginjakkan kaki di atas tanah yang subur ,tak terlihat satu orangpun disana .
“ayo !” abi mengajak dengan menuntun iklimah bersama umi untuk masuk ke dalam rumah adat itu .
“apakkah benar ini tempatnya abi ?”Tanya umi dengan merasa heran melihat tempat pengobatan yang begitu sepi seperti tak ada satu kehidupanpun .
“aku yakin.”jawab abi dengan amat yakin .langkah kakinya berjalan menuju depan pintu ,tiba-tiba terdengar suara keramaian ,entah darimana suara keramaian itu berasal .
Iklimah, umi , dan abi merasa bingung dengan apa yang sedang mereka hadapi .
“sugeng rawuh ….”ucap dua orang berpakaian adat jawa dengan blangkon berlukis batik di kepala  .membuka pintu member sambutan .
“luar biasa , luasnya isi rumah adat itu ,abi,umi.,dan iklimah menatap setiap sudut yang dilihatnya .
Pintu yang berderet di samping kanan layaknya kamar-kamar di rumah sakit .sungguh mengejutkan ,terlihat beberapa kali orangyang keluar masuk dari pintu-pintu itu .
“monggo pak.”ucap pelayan mempersilahkan iklimah untuk masuk ruangan pengobatan di sebelah kiri .iklimah tersenyum dengan diantarkan umi dan abi masuk kedalamnya . terlihat seorang laki-laki tinggi berpakaian putih koko ,celana hitam panjang dan peci hitam layaknya seorang ustadz .
“assalamu’alaikum ?” ucap salam abi .
“wa’alaikumussalam .silahkan duduk pak,..”jawab laki-laki itu ,ketiganya duduk di kursi tamu . di dalam ruangan itu, laki-laki itu memperkenalkan dirinya.
“saya mizan.biasa dipanggil room disini ,maklum memang sudah adatnya . hanya orang-orang yang meyakini saja yang bisa datang kesini ,apa keluhanmu nak ?” ujar room itu dengan bicara yang tegas dan sopan .
“anak saya mengidap asma sudah 19 tahun .”jawab abi berbicara terhadapnya .
“ulurkan tanganmu..”ucap romo dengan menarik tangan iklimah dan menyentuhnya beberapa kali .dengan lihainya tangan romo itu memijat daerah-daerah tertentu pada tangan iklimah .
“yo, ambilkan satu paket obat untuk pengidap asma .”panggil romo pada seorang laki-laki yang bernama aryo .
Laki-laki itu kembali dengan membawa kotak hitam dengan berisi 4 buah botol yang berisikan cairan berbeda warna.
“minumlah obat ini satu kali dalam sehari dua sendok makan ,ini obat tradisional buatan santri yang mengelola tempat ini termasuk saya .mereka mencoba menggali suatu hal yang baru untuk diperpadukan dengan istiadat disini, maka jangan merasa aneh dengan keberadaan kami disini ,keyakinanmu amat tinggi untuk kau bisa sembuh. Semoga lekas sembuh!”ujar romo dengan pesan dan nasehatnya kepada iklimah .
“terimakasih pak .”jawab iklimah dengan senyum di wajahnya .
Setelah tujuannya telah tercapai ,iklimah bersama keluarga segera kembali ke Jakarta . mereka melakukan perjalanan malam tanpa beristirahat  sejenak .
Dengan tenang iklimah menaikki mobil dengan membawa bekal obat untuk kesembuhan asmanya ,tak terhitung satu jam ia berada di rumah adat sumberejo itu .
setelah obat sudah di tangan maka  langkah kakipun bergegas mendekati mobil dan kembali menelusuri jejak yang telah di lewati. Berat amat terasa ketika tangan hendak menarik daun pintu rumah adat itu dan hendak menutupnya meninggalkan tradisi asal sumberejo yang baru saja terlintas dalam pikiranya.
satu langkah ia menjauh dari pintu, iklimah membalikan badan untuk menatap rumah adat itu. Tatapanya terus ia buka seoalah mencoba untuk menyimpanya dalam memory hidupnya.
“santri dan adat.’ Bisiknya iklimah dengan mengakhiri tatapanya, badanya berbalik dan….
“affan ukhti…” ucap laki-laki putih betubuh tinggi dengan wajah layak orang arab berkata pada iklimah yang tak senggaja menabraknya.
 “ never mind… “ jawab iklimah dengan keahlian bahadsa inggrisnya.
“what’s your name ?” Tanya laki-laki itu.
 “iklimah.”singkatnya ia mejawab dengan mata yang terus melirik mencari umi dan abi yang sudah tak berada di depannya .
Laki-laki itu terus menatap iklimah yang terlihat kebingungan . iklimahpun berjalan maju tanpa pamit pada laki-laki itu .
“hey…!ismi ali .”teriak laki-laki itu hingga langkah iklimah terhenti sejenak dan kembali berjalan mencari umiumi dan abinya yang menunggu di dalam mobil .
Baru saja tersadar ketika iklimah menjatuhkan tubuhnya di atas jok mobilnya, bahwa laki-laki itu ingin memperkenalkan dirinya .seingat iklimah ,ali namanya .
“ali , sepertinya dia santri .!”ucap iklimah disamping lamunannya yang terbayang sosok sli yang baru saja ia temui di depan rumah adat dengan menggunakan baju koko berwarna coklat dan sarung hitam polos dengan peci hitam diatas kepalanya ,.
Wajahnya terbayang amat ramah di depannya .cara menyapanya pun amat lembut . namun sayang ,iklimah melewatkan moment itu, ia terlalu focus dengan keberadaan orangtua yang tiba-tiba menghilang dari hadapannya .

karya : MAR’ATUSH SHOLIHAH
1 2 ... 4 5

SABAR PENOPANG ASMANYA


Malam yang amat dingin kini terlarut dalam kegelapan bersama derasnya angin yang berhembus pekat menusuk tubuh seorang gadis pengidap asma itu , sesekali dadanya terbungkam , berdetak amat kencang mencari udara yang mampu meringankan beban pernapasannya ,iklimah merasakan begitu berat, hingga ia bernafas dengan mulut  dan mengeluarkan bunyi pertanda meminta pertolongan akan nafasnya yang tiba-tiba hilang entah kemana . iklimah mencoba bertahan untuk tak bergantung pada obat yang ia milikki . namun cara itu tak mampu melukiskan senyuman pada dirinya , yang membuat nafasnya menjadi ringan layaknya orang normal .
 iklimah tak pernah patah semangat ,dirinya selalu mencoba untuk menjadi seperti orang normal yang mampu bernafas tanpa sesekali kambuh ,namun seringkali iklimah bertingkah layaknya lilin ,ketika ia mencoba untuk menjadi terang layaknya lampu, tak ia sadari usahanya untuk membuat cahaya seterang lampu membuat dirinya meleleh tak berdaya .
semangat iklimah yang begitu tinggi membuat dirinya lupa akan kemampuan raganya yang belum bisa  hidup normal layak umi dan abinya . iklimah hanya mampu berdoa dan meyakini bahwa dirinya akan terbebas dari asma yang melukiskan kepahitan dalam hidupnya . iklimah tak ingin meneteskan air mata di hadapan umi dan abinya .Ketika dirinya sedang terisak dengan nafasnya yang berat.
“umi,usiaku tlah mencapai 19 tahun, namun asmaku semakin akut tak hilang sedikitpun .”ucap iklimah dengan senyum menahan nafas yang amat berat ia rasakan .
“semua penyakit itu diturunkan bersama obatnya, sebagai penyembuhan. Tugasmu hanya bersabar ,berdoa dan meyakini bahwa kau akan sembuh ,sayang !!!!!!!!!!” jawab umi dengan nasihat yang selalu diucapkan pada iklimah, perlahan tangan umi mengusap rambut iklimah dngan kasih sayang .
“umi kapan hidup limah akan terasa manis layaknya madu!”ujar limah dengan nafas yang masih terputus-putus.
“limah,semua ada waktunya .beristirahatlah, esok kau akan berobat ke sumberejo bersama umi dan abi.”jelas umi yang hendak memberhentikan bicaranya yang terdengar sangatberat keluar dari kedua belah bibirnya .
Iklimah hanya mampu tersenyum menatap umi yang masih ada di samping tubuhnya yang terkapar tak berdaya .
Iklimah mulai merasa tenang dan perlahan reda karena bantuan obat asal American yang ia minum . Matanya mulai lelah setelah setengah jam menahan rasa sakit di dada yang tak sekali dua kali ia rasakan dengan pahit. Terpejamlah iklimah dalam pelukan angin malm yang berhembus amat kencang menusujk tubuhnya .
Umi mengulurkan sehelai kain tebal ke seluruh tubuhnya yang telah terlapis switter coklat pember kehangatan dalam tubuhnya. Umi pergi dari kamar iklimah setelah memberikan satu kecupan pada malam indah dalam lelapnya pejaman mata iklimah .
Esok iklimah akan berangkat menuju sumberejo untuk melakukan pengobatan , selama beberapa hari  tempat tinggalnya di Jakarta akan ia tinggalkan termasuk sosok rey yang saat ini selalu mendambakan iklimah .
Mata iklimah yang terpejam dengan lelah tak mampu terus menutup ketika waktu menunjukkan pukul 02.30 pagi , kegelapan sebelum datang mentari tak pernah lupa dengan raga iklimah yang lemah lesu , doa penutup matannya tak pernah lelah untuk mencoba membangunkan iklimah dalam tidur pulasnya .raganya yang masih lelah tak berdaya bangkit untuk mengadu dan berdoa pada sang pencipta . ia uraikan semua lantunan harapannya dalam beberapa rakaat di sepertiga malam itu. Ia sertakan air mata yang menjadi wali akan sebuah cita-cita iklimah untuk sebuah kesembuan dalam dirinya .
19 tahun ia rasakan pahit di dada, dengan bernafas menggunakan alat bantu pernafasan miliknya. Namun dengan berpegang teguh pada rasa sabar iklimah tumbuh dengan semangat hidup yang tinggi.
Ia tak pernah lelah menantikan kesembuhan pada dirinya pada suatu saat nanti.
“obatku ada padamu ya rabb. Ragaku adalah milikmu, dan cintaku adalah karyamu, kuharapkan akan melebur menjadi satu dalam diriku,sebuah kesembuhan,kekuatan dan kepuasan batinku untuk seseorang yang kusayangi, entah dimana? Antarkan dirinya pada diriku untuk meleburkan kisah yang membuatku tersiksa sepedih ini. Kau adalah asyifa ku meyakini kesembuhanku ada waktunya ya rabb.”jelas iklimah dalam doa disepertiga malamnya.
Ia mengadu diatas sejadah merah tebal miliknya. Ditenah dinginya malam. Iklimah tenang bersama kain solat diatas sajadah merah yang menghangatkan dirinya. Dalam doa ia meminta kesembuhan dan kekuatan serta kisah cinta yang ia jalani, ia harapkan luntur dengan adanya pendamping baru dihatinya. Usahanya untuk menyayangi rey tak mampu teruraikan dengan tenang. Ia tak kuasa menahan dirinya untuk terus mengalirkan air mata karena kesakitan dalam batinya.
Iklimah hanya mampu menyerahkan dirinya dalam doa harapanya. Keputusan sang pencipta adalah yang terbaik untuk dirinya.
Kesabaran yang iklimah genggam tak pernah luntur hingga saat ini. Dirinya terus mengukir bintang diatas langit.
karya : MAR’ATUSH SHOLIHAH
1...3 4 5

“DEKAP AKU WAHAI SALJU”

“Summit labor”
“DEKAP AKU WAHAI SALJU”
PROLOG
                Senja tak berawan terukir dengan indah ketika iklimah terduduk berjauhan di halaman rumah bersama rey sang laki –laki yang mendambakannya saat ini iklimah hanya duduk tertunduk dan diam menahan rasa , rey pun menatap rasa pada gadis yang ia dambakan terdiam sepi di depannya . tak sedikitpun iklimah melirik pada sosok rey dan melemparkan senyuman padanya .
“Rasaku ada pada cincin emas ini !” tangan reypun terulur kehadapan wajah iklimah yang hamper saja mengenai jilbab biru yang dikenakannya .
“Tangan dekatkan itu padaku .” jawab iklimah dengan mengangkat tangan dan menjauhkan kotak cincin yang diarahkan di depannya .
“Apa yang menjadi penghalang dalam pikiranmu ?” ujar rey dengan merasa aneh melihat tingkah iklimah akhir-akhir ini .
“Berikan itu padaku ketika ada waliku di sampingku.” Jawab singkatnya iklimah dengan mengangkat wajahnya yang membawa senyuman ke arah rey yang berada di depannya . rey pun balas tersenyum dan denga cepat ia tutup kotak cincin itu . keberadaan rey tak hanya terdiam dirinya beranjak pergi dari halaman rumah iklimah, menjauh darinya menaikki motor ninja merah miliknya .
Seketika rey pergi ,iklimah terduduk sendiri  di kursi tamu berlapiskan kayu tebal berwarna coklat ,dirinya terdiam ,dan sekejap air matanya dengan deras mengalir .
.               Kedua tangannya menopang dagu dengan sesekalim ia mengusap pipi yang berlumuran air matanya . dirinya hanya terisak tak berdaya ,tak mengerti apa yang terjadi ,tak mengerti apa yang dirasa saat ini ,dan begitu terasa menyakitkan rasanya ketika dirinya di ulurkan sebuah cincin emas dari sosok yang slalu setia bersamanya ,dan kini berniat mengakhirinya de3ngan khitbah .
“Tak kurasa bahagia saat bersamammu .tak sedikitpun ku mampu tersenyum dengan hatiku di hadapanmu .begitu tersiksa ketika ku tak menyayangimu ,namun ku mencoba tuk menyayangimu ,untuk menghargai perasaanmu yang amat besar terhadapku ,aku tak ingin membuat hatimu terluka ,namun hatiku kurelakan terluka .”Ucap iklimah yang masih terisak sendiri dengan perasaan yang amat membuatnya merasakan kepahitan dalam kisah cinta yang tak pernah ia inginkan sebelumnya . 
karya : MAR’ATUSH SHOLIHAH

Selanjutnya 2 3 4 5 1

Jumat, 15 April 2016

Galeri 2




MAR’ATUSH SHOLIHAH



ADAT PEMILIK OBAT
Sumberejo, daerah yang masih terlumur oleh adat tradisioanalnya menyimpan setitik tempat pengobatan dengan jalan islam, beberapa terapi yang dilakukan beberapa kali, mewariskan kesembuhan yang berkala.
Hari itu terasa amat semangat membakar jiwa iklimah untuk menjemout setitik pengoabatan penuntun jalan kesembuhanya. Mobil dipanaskan dari pukul lima dini hari, iklimah pun bersiap menghias dirinya dengan pakaian tertutup rapih dengan hijab merah muad yang membuat wajahnya semakin bercahaya. Kantung mata yang hitam bibir yang terliahat puct dan raganya yang lemah lesu, sirna seketika dengan sebuah senyuman manis dibibir iklimah.
Paginya telah disediakan reyhan aditia untuk menuntun keberangkatanya. Bibirnya mengucap salam didepan daun pintu rumah iklimah. Seketika iklimah menyapa dengan senyum simpul diwajahnya. Umi dan abi pun ikut menyapa dari belakang, dengan cepat rey meraih tangan umi dan abi, ia kecup layaknya orang tua sendiri,
“apakah kau akan ikut dengan kami !” Tanya abi pada rey yang baru saja mencium tanganya.
“tidak bi, aku hanya bisa mendoakan iklimah sembuh dengan ini.” Ucap rey yang yerlihat akrab dengan abi layaknya ayah sendiri.
“yasudah, kami berangkat!” ujar abi sambil melangkah maju mendekati mobil dan menaikinya. Iklimah tak beranjak, dirinya masih terdiam didekat rey.
“jaga dirimu baik­-baik, aku yakin kau akan sembuh.”   Rey meyakini iklimah untuk sebuah kesembuhan yang kan dijalaninya .
“insyaallah .”jawab singkat iklimah  .
Langkahnya diiring rey hingga dirinya menaikki mobil yang bertujuan ke sumberejo .
Hati iklimah selalu menggerutu ketika dirinya telah bertemu dengan rey ,ia merasa heran dan bingung dengan dirinya ,dengan apa yang terjadi .
“ya rabb , mengapa hati ini amat sulit menerimanya ,mengapa hati ini selalu menolak akan dirinya menjadi kekasihku ,apa yang ada diantara kami .”ucapnya iklimah sendiri dengan duduk  menyender di dalam mobil dirinya berbisik sendiri .
Pikirannya saat itu langsung tertuju pada reyhan aditia yang hanya memiliki seorang ibu . ia ditinggal ayahnya ketika berumur lima tahun . rey adalah anak tunggal ,ia tak pernah mengetahui wajah ayahnya karena setiap ia meminta ibunya untuk menceritakan sosok ayahnya , air mata ibunya selslu menetes dengan derasnya .
Ia tak kuasa melihat ibunya yang seperti itu . rey merasa nyaman hidup dengan keluarga iklimah ,dirinya merasa mereka adalah keluarga besarnya .
“iklimah ,limah….!”panggil umi dari depan mobil .
“iya mi..”iklimah menjawab dengan kagetnya .ia kabur dalam lamunannya tentang rey .
“apa yang kau pikirkan ?..tanya lagi umi yang hanya terdengar suaranya  .
“tidak umi ,apakah perjalanannya masih jauh ,umi !”Tanya iklimahdengan nada lembutnya  .
“dua jam lagi mungkin .”jawab abi dengan singkat pada iklimah .
Perjalanan yang jauh membuat iklimah lelah dan tertidur pulas di dalam mobil .abi terus memutarbalikkan setirnya hingga ke sumberejo .
Dua jam perjalanan di tempuhnya ,dua jam pula iklimah tertidur dengan pulasnya . mobil terhenti mata iklimahpun terbuka dengan sendirinya terlihat dari sudut kaca mobil sebuah rumah adat dengan halamannya yang masih tumbuh pohon-pohon besar yang membuat sekelilingnya asri dan bersih , hijaunya dedaunan membuat semua mata terbuka ketika melihat keindahannya .
Perlahan pintu mobl dibuka dan mulai menginjakkan kaki di atas tanah yang subur ,tak terlihat satu orangpun disana .
“ayo !” abi mengajak dengan menuntun iklimah bersama umi untuk masuk ke dalam rumah adat itu .
“apakkah benar ini tempatnya abi ?”Tanya umi dengan merasa heran melihat tempat pengobatan yang begitu sepi seperti tak ada satu kehidupanpun .
“aku yakin.”jawab abi dengan amat yakin .langkah kakinya berjalan menuju depan pintu ,tiba-tiba terdengar suara keramaian ,entah darimana suara keramaian itu berasal .
Iklimah, umi , dan abi merasa bingung dengan apa yang sedang mereka hadapi .
“sugeng rawuh ….”ucap dua orang berpakaian adat jawa dengan blangkon berlukis batik di kepala  .membuka pintu member sambutan .
“luar biasa , luasnya isi rumah adat itu ,abi,umi.,dan iklimah menatap setiap sudut yang dilihatnya .
Pintu yang berderet di samping kanan layaknya kamar-kamar di rumah sakit .sungguh mengejutkan ,terlihat beberapa kali orangyang keluar masuk dari pintu-pintu itu .
“monggo pak.”ucap pelayan mempersilahkan iklimah untuk masuk ruangan pengobatan di sebelah kiri .iklimah tersenyum dengan diantarkan umi dan abi masuk kedalamnya . terlihat seorang laki-laki tinggi berpakaian putih koko ,celana hitam panjang dan peci hitam layaknya seorang ustadz .
“assalamu’alaikum ?” ucap salam abi .
“wa’alaikumussalam .silahkan duduk pak,..”jawab laki-laki itu ,ketiganya duduk di kursi tamu . di dalam ruangan itu, laki-laki itu memperkenalkan dirinya.
“saya mizan.biasa dipanggil room disini ,maklum memang sudah adatnya . hanya orang-orang yang meyakini saja yang bisa datang kesini ,apa keluhanmu nak ?” ujar room itu dengan bicara yang tegas dan sopan .
“anak saya mengidap asma sudah 19 tahun .”jawab abi berbicara terhadapnya .
“ulurkan tanganmu..”ucap romo dengan menarik tangan iklimah dan menyentuhnya beberapa kali .dengan lihainya tangan romo itu memijat daerah-daerah tertentu pada tangan iklimah .
“yo, ambilkan satu paket obat untuk pengidap asma .”panggil romo pada seorang laki-laki yang bernama aryo .
Laki-laki itu kembali dengan membawa kotak hitam dengan berisi 4 buah botol yang berisikan cairan berbeda warna.
“minumlah obat ini satu kali dalam sehari dua sendok makan ,ini obat tradisional buatan santri yang mengelola tempat ini termasuk saya .mereka mencoba menggali suatu hal yang baru untuk diperpadukan dengan istiadat disini, maka jangan merasa aneh dengan keberadaan kami disini ,keyakinanmu amat tinggi untuk kau bisa sembuh. Semoga lekas sembuh!”ujar romo dengan pesan dan nasehatnya kepada iklimah .
“terimakasih pak .”jawab iklimah dengan senyum di wajahnya .
Setelah tujuannya telah tercapai ,iklimah bersama keluarga segera kembali ke Jakarta . mereka melakukan perjalanan malam tanpa beristirahat  sejenak .
Dengan tenang iklimah menaikki mobil dengan membawa bekal obat untuk kesembuhan asmanya ,tak terhitung satu jam ia berada di rumah adat sumberejo itu .
setelah obat sudah di tangan maka  langkah kakipun bergegas mendekati mobil dan kembali menelusuri jejak yang telah di lewati. Berat amat terasa ketika tangan hendak menarik daun pintu rumah adat itu dan hendak menutupnya meninggalkan tradisi asal sumberejo yang baru saja terlintas dalam pikiranya.
satu langkah ia menjauh dari pintu, iklimah membalikan badan untuk menatap rumah adat itu. Tatapanya terus ia buka seoalah mencoba untuk menyimpanya dalam memory hidupnya.
“santri dan adat.’ Bisiknya iklimah dengan mengakhiri tatapanya, badanya berbalik dan….
“affan ukhti…” ucap laki-laki putih betubuh tinggi dengan wajah layak orang arab berkata pada iklimah yang tak senggaja menabraknya.
 “ never mind… “ jawab iklimah dengan keahlian bahadsa inggrisnya.
“what’s your name ?” Tanya laki-laki itu.
 “iklimah.”singkatnya ia mejawab dengan mata yang terus melirik mencari umi dan abi yang sudah tak berada di depannya .
Laki-laki itu terus menatap iklimah yang terlihat kebingungan . iklimahpun berjalan maju tanpa pamit pada laki-laki itu .
“hey…!ismi ali .”teriak laki-laki itu hingga langkah iklimah terhenti sejenak dan kembali berjalan mencari umiumi dan abinya yang menunggu di dalam mobil .
Baru saja tersadar ketika iklimah menjatuhkan tubuhnya di atas jok mobilnya, bahwa laki-laki itu ingin memperkenalkan dirinya .seingat iklimah ,ali namanya .
“ali , sepertinya dia santri .!”ucap iklimah disamping lamunannya yang terbayang sosok sli yang baru saja ia temui di depan rumah adat dengan menggunakan baju koko berwarna coklat dan sarung hitam polos dengan peci hitam diatas kepalanya ,.
Wajahnya terbayang amat ramah di depannya .cara menyapanya pun amat lembut . namun sayang ,iklimah melewatkan moment itu, ia terlalu focus dengan keberadaan orangtua yang tiba-tiba menghilang dari hadapannya .










JANJI SEBUAH LAMARAN
Dengan rutin iklimah meminum obat yang baru saja ia dapatkan dari sumberejo .iklimah hanya diberi jangka waktu 1 bulan untuk menghabiskan obat itu . ia berharap obat itu dapat menghilangkan penyakit asma yang berada dalam tubuhnya .bukan hanya iklimah yang mengharapkan itu namun keluarga nya dan sahabat terdekatnya termasuk reyhan aditia sang kekasih hati .
Rey selalu menanti kesembuhan iklimah ,karena dibalik kesembuhannya ia memiliki sebuah janji terhadapnya .
“setelah sembuh nanti rey akan melamarku,tapi mengapa hati ini terasa amat berat untukku bisa menjadikannya suamiku .”ucap iklimah sendiri dalam kamar sambil menutup botol obat yang baru saja ia minum . iklimah berkata –kata sendiri tentang apa yang sedang ia pikirkan saqat ini .
“limah, rey datang…!”sahut umi berjalan mendekat masuk ke dalam kamar iklimah .
“iya umi.”jawab iklimah ,ia bergegas merapikan kotak obatnya ,dan kemudian berjalan ke ruang tamu untuk menemui rey yang sedang menunggunnya .
Tatapan pertama ketika iklimah melihat rey ,ia hanya tersenyum .
“bagaimana kabarmu ?”ucap rey mengawali perbincangan sambil berdiri seolah menyambut kedatangan iklimah .
“sebaiknya kita berbicara di taman saja .”ajak iklimah untuk pergi ke halaman depan .
“tentu.”jawab singkat rey sambil berjalan ke depan halaman rumah iklimah .
Iklimah pun mengikutinya dari belakang ,kemudian keduanya jalan bersebelahan .
“lusa adalah hari kesembuhanmu .”rey melanjutkan perbincangan diantara keduanya .
“lalu?” iklimah mencoba memancing ucapan rey.
“esok aku akan melamarmu.” Ujar rey dengan sepenuh hati.
“kenapa tak lusa .?”jawab iklimah dengan raut muka tak yakin bahwa ia akan menerima lamarannya .
“terlalu lama bagiku .” rey menjelaskan dengan singkat sambil duduk di kursi tamu berlapis kayu di taman halaman depan rumah depan rumah iklimah .
“apa kau yakin dengan keputusanmu?”Tanya iklimah dengan menunjukan wajah yang amat serius .
“aku yakin.”jawab singkat rey dengan kesungguhan pada raut wajahnya .
Iklimah hanya membalas tersenyum pada rey.
“pulanglah ,persiapkan dirimu dan keluargamu untuk lamaran esok .”ucap umi menyambung pembicaraan dari belakang .
Iklimah dan rey dengan terkejut melihat umi yang berada di belakang mereka.
Rey tersenyum.
“baiklah umi.”ucapnya .
Namun iklimah ,matanya sayup berkaca-kaca .ia tak ingin semua ini terjadi karena hatinya tak pernah bisa menerima kehadiran dirinya menjadi seorang kekasih dalam hidupnya .
Disisi lain iklimah tak ingin membuat rey terluka dan umi kecewa ,hanya karena atas permintaan hatinya ,yang tak beralasan .
Perlahan iklimah mencoba tersenyumdiatas air matanya .
“pulanglah temui ibumu.”ujar lagi umi pada rey.
“iya mi.”dengan semangat rey berkata .ia bergegas pulang, ia cium tangan umi untuk meminta sebuah doa restu darinya.
Langkahnya pun menjauh pergi dari kediamannya .
Iklimah terdiam, merenung, ia tak kuasa menahan apa yang ia rasakan .
Ia merangkul tbuh umi dan menangis dengan derasnya hingga membuet wajah umi menekuk dengan kencang ,tak mengerti apa yang terjadi pada putrid tunggalnya.
Padahal di isi lain seharusnya iklimah bahagia dengan apa yang akan terjadi padanya esok.
“umi!”ujar iklimah dengan merangkul tubuh umi.
“apa yang terjadi denganmu limah ?”Tanya umi dengan amat heran terhadapnya.
“umi,limah…limah…!!”ucapnya limah dengan mulut yang gemetar tak berani mengucapkan apa yang terjadi.
“tenangkan dirimu limah,jangan biarkan dadamu terasa sakit ,tenangkan dulu,ceritakan pada umi nanti setelah air matamu reda nak!”jawab umi dengan nasehatnya yang menenangkn iklimah yang masih tersedu menangis dalam pelukan umi yang menghangatkan jiwanya.
“umi..!”iklimah hanya mampu berkata’umi’ ,dirinya tak kuasa menahan sesuatu yang telah bertahun-tahun ia pendam dengan rasa sakit yang ia rasakan.
“sudahlah,kita istirahat saja, tenangkn dirimu,”umi mengajak iklimah untuk berbaring di kamarnya .
Umi masih merasa heran dengan iklimah yang bertingkah laku seperti ini.
Akhir-akhir ini ,ia seperti orang yang memiliki beban berat dalm hidupnya.
Iklimah seolah menyembunyikan sesuatu darinya ,umi menarik selimut dan menutupkan tubuh iklimah. Perlahan dengan lihai tangannya mengusap kening iklimah hingga matanya terpejam .
Pagi itu berlarut dengan sebuah pertanyaan akan cara menyambut kebahagiaan dengan tangisan air mata yang melukiskan rsa pedih dalam jiwa yang menginginkan sebuah harapan besar dari hal yang sangat berarti dalam hidupnya .




















 

RAHASIA PENJAWAB DO’A
Hari baru berlalu ,mengubur air mata kemari untuk memendamnya hari ini .
29 hari pengobatan dijalani ikimah dan esok adalah hari dimana ia akan sembuh menurut perkiraan romo asal sumberejo itu.
Hari indah dirasakan reyhan aditia untuk bisa memasangkan cincin emas di jari manis iklimah pertanda akan sebush kebersamaan yang amat lama dalam sebuah rumah tangga yang bahagia .
Pukul 09.00 ,terdengar suara klakson mobil di depan rumah iklimh .
Dengan yakin ,yang datang adalah reyhan aditia bersama ibunya dengan tujuan melamrar iklimah pujaan hatinya .
Iklimah bersiap untuk membuat senyuman menyambutnya .iklimah menyerahkan apa yang akan terjadi hari ini pada sang pencita .
Perlahan tangan iklimah membuka pintu ,langkah awal senyuman ia paparkan di depan ibunya rey .
Pintu terbuka oleh seorang gadis berpakaian muslim dengan jilbab cokelat muda yang membuatnya terlihat lebih manis ketika mengenakannya .iklimah dengan cepat meraih tangan ibunya rey untuk kali pertama ia bertemunya .
“kaukah iklimah ?”Tanya ibu dengan wajah menatap penuh pada iklimah .
“tentu saja .”jawab singkat ibu .sementara itu rey hanya tersenyum melihat perbincangan antara ibu dan iklimah yang memperlihatkan keakraban .
Iklimah berjalan di samping ibunya untuk menuntun hingga ruang tamu dan melangsungkn lamaran secara tertutup di rumahnya .
Telah tertata rapih beberapa makanan dan minuman di atas meja tamu untuk edatangan seseorang yang telah dinantikan oleh iklimah .
Betapa berdebarnya hati iklimah saat itu ,ia tak ingin dirinya bersifat egois atas perasaan hatinya sendiri .
Iklimah hanya mampu berusaha untuk mencoba menerima rey dalam hidupnya walaupun hatinya selalu menolak sosok rey dalam hidupnya.
Disela kebersamaan iklimah dan rey d ruang tamu ,umipun datang menghampiri .tatapan umi menatap tajam ibunya rey ,sepertinya ada suatu hal yang membuat umi pernah melihat wajahnya.
“inikah ibunya rey yang dinantikan .”sahut umi sambil mendekat duduk di samping iklimah .
Ibunya reypun balik menatap tajam ,namun mencoba untuk menutupinya.
“dimana abi ,umi…?”ujar rey yang seolh telah menjadi bagian keluarganya.
“ia sedang bersiap untuk kemari.”jawab umi memastikan.
Dari samping kanan terlihat abi yang melangkah mendekat hingga mengarahkan seluruh padangan padanya .
Ibunya rey mengangkat wajahnya yang tertunduk pada abi.begitu terkagetnya ia saat matanya melihat sosok itu. Tak terasa air matanya dengan deras mengalir dan mengucapkan.
“ayaaahhh…!”satu kata yang terdengar oleh rey ,iklimah dan uminya .
Umipun ikut terbangun dari duduknya .
“apa maksudnya .?”ujar umi dengan penasaran .
Ibu rey pun mengangkat tangan untuk mengusap ribuan air mata yang mengalir di pipinya ,ia tak mampu berkata –kata ,wajahnya mengerut dan mulutnya mencoba untuk berbicara perlahan pada rey anaknya.
“dia adalah ayahmu.”ucap ibu pada rey yang masih terisak dalam tangisnya .
“maksud ibu ?”jawab rey dengan penjelasan singkat ibunya .abipun menatap redup ibunya rey dengan bibir gemetar .
“ini abi, ayahku .”ujar iklimah mencoba menjelaskan ketidak mengertiannya .
“dan gadis ini adalah adik tirimu ,kau tak pantas menikahinya .”jawab lagi ibu dengan nada tinggi tersedu-sedu.
“tidak mungkin bu.”ucap rey dengan amat begitu kecewa . umi yang hanya bisa diam melihat apa yang terjadi bergegas pergi ke kamar .
“umi biar abi jelaskan !!!!!!!!!!!”ucap tegas abi dengan menarik tangan kanannya .namun, itu tak membuat langkahnya terhenti .
“yah ,ini anakmu ,dan aku ini adalah istri yang kau tinggalkan 15 tahun lalu .aku tak pernah melupakan wajahmu .”ibu rey pun menjelaskan dengan air mata yang deras mengalir .
Iklimah terduduk lemas melihat kenyataan yang baru terungkap ini .begitupun rey yang amat terpukul atas berita yang tak pernah ia tahu sebelumnya .
Tanpa berkata-kata abipun bergegas ke kamar menyusul umi,istri yang ia sayangi kini .ibunya rey pun keluar dari rumah meninggalkan rey dan iklimah berduaan di ruang tamu .
Rey menatap tajam iklimah yang sedang terduduk melamun. Perlahan langkahnya mendekati iklimah dan menarik kasar tangan iklimah ,hingga ia terbangun kesakitan .
“kau dengar itu , betapa sangat aku mencintaimu ,namun kau… kau adalah adikku. Iklimah aku mencintaimu .”ucap rey dengan emosinya hingga tubuhnya hamper memeluk tubuh iklimah dengan perasaan kecewanya .
“jangan pernah kau dekap tubuhku segampang itu rey .”jawab iklimah dengan mendorong tubuh rey menjauh darinya, hingga tubuh iklimah terbanting ke atas sofa .
“iklimah ,aku tak kuasa melihat kecantikanmu.”rey berlari mendekati iklimah dan membuka tangannya untuk menahan iklimah di atas kursi . ia dekatkan dan semakin dekat wajahnya pada tubuh iklimah .
“rey,biadab kau..!”teriak iklimah dengan air mata di pipinya .
“kau tak bisa berbuat apa-apa ,sekarang kau akan menjadi milikku .”ucap rey yang semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh iklimah .
“rey..!!ini bukan rey yang ku kenal ,rey jangan kau lakukan atas kehendak emosimu… rey hentikannn…!!!!!!”ucap iklimah dengan nada tinggi dan mencoba menahan tubuh rey yang telah dipenuhi emosi oleh tangannya .
“rey…!!!”teriak lagi iklimah dengan mendorong tubuh rey hingga terjatuh ke bawah dan tiba-tiba dalam tangis iklimah ,nafasnya tersedu dan mulai terasa berat . ia pun tak mampu mengatur nafasnya .
Tangan iklimah mencoba memegang kain sofa dengan eratnya . ia tak mampu menahan rasa sakit di dadanya .
Rey hanya mapu melihat iklimah kesakitan di atas sofa .
“iklimah ,apa yang terjadi ?”ucap rey dengan nada perhatiannya .
Iklimah dengan berat menarik nafas nya tak mampu berkata apa-apa .ia hanya mampu menguraikan air mata.
“aaaaaahhhh….!”ucap rey dengan kesal .ia pun pergi dengan meniggalkan iklimah yang sedang merasakan asma yang menghilangkan nafasnya .iklimah tak mampu berbuat apa-apa,ia hanya bisa menunggu seseorang yang datang untuk menolongnya .
Iklimah tak kuasa menahan rasa sakit di dadanya .bibirnya memutih ,tangannya bergetar melemas,matanya mulai kabur dengan cahaya ruangan , nafasnya mulai tenang dan gelap .

“iklimah, ini umi…”ucap umi dengan lembut pada iklimah yang tengah terbaring di kamarnya .
Perlahan jari tangannya bergerak, wajahnya memutar kea rah kiri , matanya terbuka menatap cahaya ruangan . tatapannya tertuju langsung pada seseorang yang berada di samping kanan dan kirinya .
“umi ..abi…aku gagal ,aku tak bisa smbuh .”ucap iklimah dengan mengigat hari esok yang seharusnya ia sembuh .
Namu harapan itu gagal ketika hari ini asmanya kambuh dengan begitu parahnya ,padahal hanya tinggal menunggu 1 hari lagi .
Umi dan abi hanya mampu tersenyum dan kembali menyemangati anaknya itu .
Hari itu berlalu dengan haru ,umi dan abi tetap terlihat begitu dekat walaupun baru saja masalah menimpanya .
Iklimah kini mengetahui kegelisahan hatinya . ternyata rey adalah kakak tirinya . pantas saja hatinya selalu menolak akan dirinya menjadi kekasi iklimah .
Iklimah tak tahu dirinya harus bersikap seperti apa ketika nanti dirinya bertemu dengan rey,yang saat ini sedang merasa terpukul dengan kejadian kemarin .
“beristirahatlah nak.”ucap umi sambil mengusap rambut iklimah dengan lembut .
“jangan kau pikirkan masalah kemarin ,semuanya telah selesai .”sahut abi dengan jelas dan tegas .iklimah hanya mengangguk dan tersenyum menjawab semua ucapan umi dan abi.
Umi dan abi pun keluar dari kamar iklimah ,membiarkan dirinya terbaring sendiri dalam peristirahatannya .
“ya rabb ,kau jawab semua doa dalam tahajudku.”ucap iklimah dengan mata penuh harapan serta syukur.
Tak kuasa dengan tubuhnya yang terasa semakin melemah ,mulutnya seolah membisu,tangannya terdekap di atas perutnya yang dilapisi kain tebal penghangat tubuh .
Perlahan matannya sayup dan mulai menemui kisah baru dalam gelapnya pandangan mata.











KISAH BARU
Beberapa hari berlalu tanpa kedatangan rey ke rumahnya ,membuat iklimah pulih dan tenang dengan kehidupan barunya ,walau asmanya dinyatakan gagal dalam masa penyembuhan kemarin.
Iklimah tak putus asa ,ia tetap menjadi iklimah yang memiliki jiwa semangat yang tinggi.ia terus berusaha untuk membuat dirinya sembuh. Iklimah tak ingin dirinya hanya terdiam di rumah layaknya orang sakit .
“iklimah, umi berniat mengajakmu berobat ke Amsterdam .”sahut umi dari belakanga iklimah yang sedang duduk di halaman rumah .
“apa itu tidak terlalu jauh umi.?”jawab iklimah dengan menengok kea rah umi .
“tak ada jalan lain ,dan kebetulan ada pamanmu disana .”ucap umi sambil duduk bersebelahan dengan  iklimah .
“aku serahkan pada keputusan umi dan abi saja .”jawabnya iklim,ah dengan senyumnya .
“tapi mungkin tak saat ini “ujar umi dengan menundukkan kepala .
“taka pa umi. Umi… izinkan aku bersepeda di depan rumah saja .”ucap iklimah dengan nada merayu pada umi .
“tapi tak lama.”jawab umi dengan menunjuk wajah iklimah dengan jarinya .
“terimakasih umi..”dengan semangat iklimah menjawab dan langsung menarik sepeda dari samping rumah lalu menaikkinya dengan berpakaian rok dan jilbab hitam serta baju panjang berwarna merah tua .
Dengan bibir yang terus tersenyum ,iklimah menggoes sepedanya .ia rasakan udara segar dalam pernafasannya .ia rasakan bebas saat pandangannya menatap rumah –rumah dan pohon yang masih terjaga keasriannnya .matanya terus menatap orang-orang yang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Seorang ibu yang lihai memainkan sapunya ,seorang ayah yang duduk santai dengan korannya ,beberapa anak muda yang bermain dengan gitarnya,anak-anakyang berlarian penuh canda tawa ,hinnga seorang laki-laki yang pernah ia temui ,ia pandang beberapa kali untuk memastikan bahwa itu benar-benar….
“ali …”ucapnya iklimah yang tiba-tiba menghentikan goesan sepedanya dan membuatnya tak seimbang hingga sepedanya terjatuh bersama dirinya di atas jalan beraspal itu .
“hey !limadza?biar kubantu .” sahut ali yang langsung berlari mendekati iklimah yang terjatuh dari sepedanya .
“la’ba’sa, syukron .”jawab iklimah yang tersipu malu dengan bahasa arabnya yang dulu pernah ia pelajari di madrasah aliyah .
“kau tak apa ?”ucapnya lagi ali bertanya pada iklimah .
“tidak,biarkan aku saja .”jawab iklimah sambil memegang sepeda yang di pegang oleh ali .
“tidak, aku tahu kau lemas ,biarkan aku yang memmbawanya hingga ke depan rumahmu .”ujar ali menunjukkan kepeduliaannya pada iklimah yang padahal ia belum mengenalnya begitu dekat .
“tak usah aku saja.”jawab iklimah memaksa tak ingin dibantu .
“bagaimana jika di tengah jalan asmamu kambuh.!”ucapnya lagi ali yang seolah sudah mengenal iklimah dari sejak lama .
“bagaimana kau bisa ….. baiklah .”jawabnya iklimah dengan menatap heran ali yang sepertinya tahu banyak tentang dirinya .
“naiklah..”ujar ali yang telah siap bersepeda mengantarkan iklimah pulang .
“tapi bagaimana …euuu…”ucap iklimah dengan ragu, ia merasa aneh dengan orang yang bernama ali itu .sebenarnya dia ini siapa ?
“jangan takut, naiklah .”ali mencoba memotong pembicaraan iklimah dan menyuruhnya duduk di jok sepeda belakang bersamanya.
Dengan amat heran dan bingung iklimah naik ,ali pun berjalan menggoesnya .
Tangan iklimah berpegangan pada besi di belakang jok sepeda yang ia naikki.ali tak memutarbalik sepeda untuk menuju rumah iklimah .ia berjalan lurus dan diantara keduanya tak ada perbincangan melainkn hanya saling diam dan tersipu dalam lamunannya masing-masing.
Lamunannya beranjak kabur ketika roda sepeda itu berhenti berputar.bukan rumah iklimah tuijuannya ,namun terlihat kelinci-kelinci putih yang berkeliaran di setiap sudut lapangan ,yang berlapiskan  rumput hijau yang luas .
Iklimah turun dari sepeda matanya menatap takjub pada hewan-hewan lucu itu.setahu iklimah di Jakarta tak ada hewan berkeliaran selain di kebun binatang .
Tatapan iklimah kabur setelah ali datang di depannya membawakan seekor kelinci untuknya .
“jangan dekatkan ,aku tak boleh menyentuhnya ,bulunya membuat nafasku berat.”ucap iklimah dengan mundur 1 langkah dari kediaman ali.
“tidak,peganglah,yakinkan dirimu.”jawab ali dengan mencoba meyakinkan iklimah,tangannya kembali mendekatkan kelinci putih itu pada iklimah.
Iklimah pun tersenyum ,dan perlahan tangannya menggapai kelinci yang tengah dipegang ali , ia memeluknya dan mengusap tubuh kelinci putih itu dengan senyum penuh di wajahnya .
“ikutlah denganku .”ujar ali yang mengajak iklimah berjalan –jalan di sekitar lapangan hijau itu .
“tunggu ,aku belum mengenalmu .”Tanya iklimah dengan rasa penasaran .
“tapi aku telah mengenalmu .”jawab singkatnya ali pada iklimah yang masih mengelus kelinci putih di tangannya .
“ismuka ali…benar.”ucap iklimah menebak dan mencoba untuk mengenalnya.
“benar,kau iklimah .”sahut ali yang tersenyum pada iklimah .
“bagaimana bisa kau berada disini ?”tanya iklimah yang masih penasaran pada sosok ali yang tiba-tiba hadir dalam kehidupannya .
“aku disini untukmu ,kau merasa aneh ketika kau melihat kelinci di lapangan ini ,karena kau tak pernah keluar sejauh ini dari depan rumahmu .”jelas ali yang berucap tegas meyakinkan pada iklimah .
“untukku!kau tahu banyak tentangku .”jawab iklimah sambil melirik pada ali yang berjalan sambil tersenyum tegak menatap ke depan .
“iya, pak trisna memiliki ternak kelinci dan setiap minggu ia melepaskannya di lapangan ini untuk menarik para produsen .”jelas ali memberitahu iklimah .
Iklimah hanya mengangguk dan tersennyum .
Tak terasa ia telah berjalan memutari lapangan itu, ali kembali menaikki sepeda dan kelinci yang di genggam iklimah ia lepaskan tanpa ia rasakan nafas yang berat di dadanya .
Tanpa ali berucap, iklimah naik sepeda di belakang ali .dan sepeda memutar arah menuju arah jalan rumah iklimah .
Keduanyapun saling diam menikmati setiap sudut yang dilihat ,yang walaupun hanya sebuah perumahan dengan pohon-pohon seadanya .
Dengan tak terkira ,sepeda itu berhenti tepat di depan rumah iklimah .
“bagaimana kau bisa tahu ini rumahku?”Tanya lagi iklimah dengan heran sambil turun dari jok sepeda .
“sudah ku katakana aku mengenalmu .”jawab ali dengan begitu meyakinkan .
Iklimah tak menghiraukan .ia berjalan membuka pintu gerbang rumahnya .
“apa kau tidak menginginkan sepedamu ?”sindir ali yang memalingkan wajah dari iklimah .
“oh ya ampun ,makasih ,hari ini luar biasa .”ikllimah berbalik dan mencoba meraih sepedanya dari genggaman ali .
“salam untuk orangtuamu ,beristirahatlah .”ucap ali dengan raut wajah yang amat peduli pada iklimah.
Iklimah berjalan masuk dengan mendorong sepedanya ke dalam rumah .wajah iklimah masih terlihat heran dan amat tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini .
Ia merasakan suatu hal yang nyaman dan hari penuh semangat .
Terlihat dari depan rumah umi yang telah menunggu kedatangan iklimah yang mengkhawatirkannya .
“kau bahagia ?”Tanya umi dengan pasti .
“umi , bisa saja .”jawab iklimah dengan tenang dan  wajah yang terisi dengan penuh senyuman.
“istirahatlah.”ujar umi menyarankan iklimah untuk istirahat sejenak .
Dengan senyum .iklimah masuk ke dalam kamar dengan diiringi umi di belakangnya .
Kelelahannya membuahkan mata yang terus tersayup dengan bayangan ali dalam tidurnya .



















KAGUM BERBUAH CINTA
Pagi yang cerah tak mampu melupakan kenangan kemarin bersama sesosok pria yang misterius . iklimah tak mampu menebak ali yang tiba-tiba datang memberikan senyuman dan keanehan dalam hidupnya .
Pikiran iklimah slalu terbayangkan pada sosok ali yang menunjukan rasa peduli terhadapnya . iklimah tak mengerti maksud dan tujuan dia apa ? yang  jelas iklimah mengaguminya . yang ia tahu ali selalu meyakinkan dirinya bahwa iklimah bisa untuk menjadi seperti orang normal .
Baru kali pertama itu iklimah bisa memeganh kelinci tanpa merasakan asmanya kambuh karena bulu kelinci itu .
Iklimah berharap sosok yang bernama ali itu datang lagi untuk membuat iklimah bangkit dan lebih semangat lagi .
Iklimah tersenyum kagum dalam lamunannya sendiri di kamar.
“limah temanmu datang .”teriak umi dari luar kamar iklimah .
Selalu saja ada halangan yang membuat lamunan iklimah kabur seketika .
“temanku…siapa? Iya umi..!”berbisik iklimah ,kemudian berteriak menjawab sahutan dari uminya .
Iklimah bangkit dari dari tidurnya ,membuka pintu dan bergegas pergi ke ruang tamu .
Tidak lain dan tidak bukan sosok yang hadir terduduk di hadapannya adalah orang yang baru saja hadir dalam bayangannya .
Ia terlihat begitu tampan dengan pakaian kaos panjang berwarna hitam berlis abu dan celana hitam panjang  tanpa memakai peci dan terlihat seperti tak biasanya .
“ali kah !”sahut iklimah dengan heran .
“begitukah yang kau lihat .”jawabnya ali dengan tegas dan gayanya yang khas .
Ketika iklimah mendekat untiuk duduk di kursi sebelahnya.
“ikutlah bersamaku.”ujar ali sambil berdiri bertutur kata pada iklimah.
Iklimah hanya tersenyum dan mengikuti.
“biarkan aku meminta izin pada umi dan abiku.”jawab iklimah dengan lembut .
“tidak ,aku yang mengajak maka aku yang meminta izin ,dan orangtuamu telah mengizinkannya .”jelas ali yang menunjukan kedewasaannya.
“benarkah…!”ujar iklimah mengayunkan nada bicaranya .
Ali hanya mengangguk tersenyum mengiyakan ketidakpercayaan iklimah .
Iklimahpun mengikuti ali berjalan keluar rumah . jika kemarin sepeda yang mengukir kisah diantara mereka ,maka sekarang sebuah mobil sport merah yang mengawali kisah di pagi harinya .
Sudah berapa kali iklimah dikejutkan oleh sosok yang bernama ali ini .dadanya amat tergoncang dengan hebatnya .
Walaupun iklimah merasa aneh dengan sosok ali ini ,namun dirinya merasa nyaman berada di samping ali .
“masuklah…”ali mempersilahkan iklimah masuk dan duduk di depan menemani ali memutarbalikkan setirnya .
Iklimah hanya tersenyum .ia masuk dengan jilbab dan pakaian muslim yang membuatnya terlihat anggun .
Perlahan mobil itu berjalan , keduanya hanya diam ,ali sibuk dengan perhatiannya pada jalan yang ia lewati ,sedangkan iklimah hanya mampu menatap ali dari samping ,ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepadanya .
“sebenarnya kau ini siapa ?”Tanya iklimah dengan wajah yang berbalik kepadanya .
“kau masih bertanya ,tidakkah kau melihat kesungguhanku .”jawabnya ali ali yang malah mempersulit suasana dengan tebakan –tebakannya .
“kumohon ,hari ini kau jelaskan semua .”ujar iklimah yang seolah akan mengakhiri semua tebakannya .
“aku adalah seorang santri yang mengagumimu ,menyayangimu, bahkan mencintaimu dan ingin memilikimu .”jawabnya ali yang masih fokus memperhatikan jalnnya .
Iklimah berbalik kaget pada ali yang berada di sampingnya .
“kenapa ?”wajah ali berbalik sehingga berhadapan dengan wajah iklimah . iklimah menurunkan pandangannya pada ali .
“tidak ,aku merasa nyaman bersamamu ,tapi aku mengenalmu .”jawab iklimah dengan nada rendahnya .
Mobil merah itu terhenti di sebuah tempat. Ali pun turun dan membukkan pintu dimana iklimah berada .
Iklimah begitu takjub dengan pelayanan ali terhadapnya . ali mencoba menuntun langkah iklimah menuju sebuah rumah kecil yang berada di antara gedung-gedung mewah tinggi pencakar langitt .
“lihatlah rumah kecil yang kumuh itu, ayo kita masuk .”ajak ali seakan mau menunjukkan sesuatu pada iklimah .
Iklimah hanya tersenyum dan berjalan bersebelahan bersama ali .
Ia melewati rerumputan yang tinggi dan tanah kering yang sudah tak subur . ali mencoba membuka pintu dan mengucapkan salam .
Luar biasa , dari yang pertama ia lihat amat buruk ,namun hal itu sirna setelah pintu dibuka .terlihat dinding-dinding yang dilapisi cat berwarna dan puluhan lukisan bernilai tinggi menghiasinya .
Iklimah berjalan ,tangannya meraba setiap sudut lukisan yang tertempel di dinding .permainan warna yang terlihat memukau membuat tenang dan indaah .
Satu hal lagi yang membuat dada iklimah berdebar terlihat satu lukisan yang terdiam sendiri di satu sudut ruangan .
Gadis dewasa yang mengenakan hijab biru tua , tersenyum manis dengan tangan yang memeluk kelinci putih ,dan itu adalah iklimah sendiri .
Ia mendekat dan meraba wajahnya yang tersenyum .
Seketika,air matanya pun mengalir ,namun bibirnya tak henti tersenyum . iklimah berbalik menghadapkan doirinya pada ali yangt berdiri tersenyum melihatnya .
“terkadang orang hanya melihat dari satu sisi saja .”ucap ali mengawali perbincangan diantara keduanya .
“betapa aku sangat mengagumimu.”jawab iklimah dengan beberapa air mata yang sesekali ia hapus dengan tangannya .
“izinkan aku bertemu walimu .”ujar ali yang berkata singkat namun pasti .
Iklimah hanya mengangguk dan tersenyum . keduanya berjalan bersebelahan menjauh dari rumah itu dan menaikki mobil untuk kembali ke rumah iklimah .
“aku ingin mempertemukanmu dengan salju .”ucap ali mengawali perbincangan di dalam mobil .
“imposibble.”jelas singkat iklimah yang menyatakan bahwa itu tidak mungkin terjadi .
“nothing imposibble,itu akan menjadi janjiku untukmu .”ujar ali yang selalu menunjukkan keyakinan yang luar biasa dalam diri iklimah .
Lagi-lagi iklimah slalu dikagetkan dengan segala sesuatu yang seharusnya ia jauhi dan memiliki resiko tinggi untuk penyakit asmanya .
Entah hal apalagi yang akan membuat hati iklimah berdebar karena tingkah dan perilaku ali yang selalu membuatnya yakin dan terus tegar dalam menghadapi asmanya .
“sedang ada acara apa di rumah ,sepertinya ramai sekali .”ujar iklimah saat pandangannya tertuju pada halaman depan rumahnya .
“acara kita .”jawabnya ali dengan pasti . iklimah tak mampu berkata apa-apa ,ia hanya mampu mengira –ngira apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya dan hidupnya .
Mobil sport merah itu berhenti tepat di depan rumah iklimah yang terlihat ada sebuah mobil hitam yang tak ia kenali .
Iklimah keluar dari mobil dan berjalan lebih awal mendahului ali berjalan .ali hanya mengikuti dan mencoba menyusulnya .
“assalamu’alaikum…!”sapa iklimah dari depan pintu yang telah terbuka .
“wa’alaikumussalam.”jawab para penghuni rumah ,terlihat umi dan abi , dan 4 orang lain yang tak ia kenal berkumpul di ruang tamu , juga terhidangkan beberapa makanan di atas meja .
Iklimah mendekat dan duduk diantara umi dan abi . dan ali menghampiri 4 orang lain yang tak iklimah kenal ,ternyata itu adalah ayah ,ibu,kakak laki-laki dan romo yang kemarin ia temui di sumberejo .
Iklimah amat terkesima dengan kedatangan mereka tanpa ia ketahui .
“saya awali saja , iklimah ,anak ayah ini ingin mengkhitbahmu . apa kau menerimanya atau tidak ?” jelas ayahnya ali yang langsung berbicara pada intinya .
“bagaimana bisa aku tidak menerimanya ,sedangkan aku nyaman bersamanya .”jawab iklimah dengan ucapan teka-tekinya .alipun menarik nafas dengan leganya . lamarannya ia terima ,kedua keluarga amat bahagia dengan keserasian hati di antara anak-anaknya .
Dengan tak menunda-nunda waktu keduanya segera menentukkan tanggal pernikahan ,dan melangsungkan nya dengan mahar 50 gram emas dan mempertemukan iklimah dengan salju .










AKHIR KESENDIRIAN
Hari rabu,29 agustus adalah hari bahagia antara iklimah dan ali ,keduannya melangsungkan acara pernikahan dengan khidmat di kediaman rumah iklimah ,Jakarta pusat dengan meriah dank has islami berupa music arab pengantarnya , menghadirkan ratusan tamu undangan dan sanak keluarga berkumpul dalam ikatan silaturrahmi .
Setelah keduanya melangsungkan akad dan telah sah menjadi pasangan suami istri ,keduanya duduk berdua di kursi pelaminan layaknya raja dan ratu .
Pernikahan yang diawali 3 hari perkenalan ini membuahkan bahagia diantara keduanya .
Sosok ali yang gagah mengenakan jas berwarna hitam dan selana hitam berlis merah muda dengan kalung bunga melati di dada terlihat serasi dengan iklimah yang mengenakan gaun mewah merah muda dan hijabnya yang anggun dengan lapisan bunga melati di atasnya tersusun sangat rapih .
“bolehkah aku mengatakan satu hal padamu ?”Tanya ali pada iklimah istrinya ,di tengah-tengah tamu undangan terduduk di kursi pelaminan .
“apa sih yang tak boleh untuk suamiku .”jawab iklimah dengan nada lembutnya ,dan senyumannya yang khas .
“bolehkah aku menciummu .”ujar ali yang m,eminta dengan rayuannya .
“tidak ,setelah kau mempertemukan aku dengan salju .”jawab iklimah yang memalingkan wajahnya dari ali .
Kemudian dengan halus tangan ali menarik wajahnya untuk dihadapkan pada matanya yang menatapnya amat dalam .
Kemudian keduanya tersenyum tertawa bahagia . hingga keduanya gerogi tanpa alasan ‘ali pun meraih wajah iklimah dan mencium keningnya untuk yang kedua kali .
Hari itu pun berlalu amat terasa indah walaupun hanya dalam waktu satu hari.
Sore itu juga pasangan pengantin ini langsung bersiap untuk sebuah penerbangan ke jepang ,seperti janjinya ali kepada iklimah .ia takkan menyentuhnya sebelum asmanya sembuh total dan ali akan mempertemukan iklimah dengan dinginnya salju di jepang .
Keduanya ingin menghabiskan waktu berdua di jepang selam beberapa minggu .
Segala sesuatunya telah dipersiapkan oleh ali ,sebuah rumah yang dipesan untuk beberapa minggu telah menunggu disana .sebuah kendaraan yang siap mengantarkan iklimah dan ali kemanapun mereka inginkan .dan ribuan tetes salju yang telah menanti kedatangan iklimah yang membawakan kehangatan di jepang.
Iklimah kini tak sendiri ,ia memiliki seorang raja yang siap menemaninya kemana saja .
“hari ini berlalu begitu cepat .”ucap ali yang sedang mempersiapkan keberangkatannya di kamar pengantin .
“tapi hari ini akan menjadi hari sejarah bagi kita .”jawaaaaaab iklimah yang juga sibuk dengan kesiapannya sore ini .
“aku akan selalu menyayangimu.”ujar ali sambil memeluk iklimah dari belakang menghentikan kesibukan sejenak .
“dan aku akan selalu mengagumimu .”jawabnya iklimah dengan lembut dan menunjukkan sisi kehangatan diantara keduanya .
Terdengar suara klakson mobil yang berbunyi beberapa kali ,itu menandakan keduanya siap berangkat menuju bandara .
Iklimah dan ali pun keluar dengan bergandengan tangan ,pakaian khas berwarna cokelat dan mantel menunjukkan keserasian diantara keduanya .
“umi,abi,doakan aku .”ujar iklimah meminta restu dan doa atas keselamatan dan kesembuhannya.
“tak pernah lupa nak .”ucap ali yang tersenyum memeluk anak semata wayangnya itu.
Keduanya berpamitan pada seluruh sanak keluarga dengan segera keduanya menaikki mobil yang telah terpasang bunga diikat pita di depannya yang menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat sepasang pengantin yang akan hidup bahagia .
Ali dan iklimah duduk di belakang dan ditemani sopir di depan nya dengan melambaikan tangan . keduanya mengawali perjalanan menuju hidup baru yang nyaman .kini tak ada jarak antara ali dan iklimah ,hingga di dalam mobil tangan iklimah tak terlepas dari genggaman ali ,malah lebih dekat .
Iklimah menyenderkan dirinya disamping tubuh ali ,hingga kepalanya tersungkur dan memperlihatkan keharmonisan diantara keduanya .
Iklimah hanya memikirkan satu hal dalam dirinya . entah bagaimana nanti dirinya bertemu dengan dinginnyasalju ,sedangkan dengan dinginnya air hujan saja nafasnya sudah tak mampu ia atur dengan baik .
Pikirannya tertunda saat mobil terhenti di bandara .dan sebuah pesawat telah siap berangkat untuk mengantarkan ali dan iklimah menemui kebahagiaannya berdua di jepang .





DEKAP AKU WAHAI SALJU
langkah awalnya menginjak tanah yang bertumpuk daun dari pohon yang berguguran tertiup angin yang menusuk tubuh berlapis kain tebal dengan sarung tangan penghangatnya .
hari ini salju tak turun ,namun tak sedikitpun rasa dingin itu hilang  di bumi sakura jepang . ali yang baru saja sampai di depan rumah menantinya di jepang bersama iklimah , berjaln bergandengan di depan rumah ala jepang itu .
iklimah menyenderkan kepalanya pada bahu ali dan ali pun memeluk dari belakang dengan sebelah tangan . mereka menunjukkan keharmonisannya setelah menikah dan memilih berduaan di jepang .
“salju akan turun menyelimutimu .”ucap ali pada iklimah yang sedang menyender di bahunya .
“akankah aku kuat menahan dinginnya .”jawab iklimah sambil mengangkat kepalanya melepaskan senderan pada bahu ali yang duduk di kursi depan rumah itu .
“aku yang akan menghangatkanmu .”ujar ali sambil merangkul iklimah dengan kedua tangannya dari samping hingga membuat iklimah terjatuh dalam pelukannya .
“kau yang selalu membuatku yakin .”jawab iklimah dengan tersenyum .
“karena kaulah keyakinanku .”ucap ali yang semakin menunjukkan keharmonisannya .
Di tengah kemesraan ali dan iklimah tak teraa beberap tetes yang mewariskan rasa dingin terjatuh dari atas langit .iklimah hanya tersenyum menyambutnya datang .
“yakinlah .”sahut ali dengan meraih wajah iklimah dan mencium keningnya .
Iklimah tersenyum dan mencoba meyakinkan dirinya untuk bisa melawan dinginnya salju .
Tangan iklimah bergetar ketika beberapa tetes salju mengenai tubuhnya yang terbungkus mantel tebal dan sarung tangan serta topi penutup kepala hingga daun telinga .
Ali terus menatap wajah iklimah sang istri tercinta .
Ali merasa iklimah belum mampu untuk menahan dinginnya salju saat ini .bibirnya mulai memutih ,matanya sayup ,dan tangannya semakin bergetar ,hingga ia simpan di atas dadanya .
Tak kuasa menahan sakit tangannya meremas dada dengan amat kencangnya .nafasnya terasa berat dan sulit untuk diatur .
Ali dengan segera merangkulnya dan membawanya ke dalam rumah .ia baringkan iklimah di atas sofa berwarna merah ,lalu dibuatkannya cokelat panas yang masih mengeluarkan asap dan dapat menghangatkan tubuh iklimah .
Iklimah hanya mampu tersedu dengan nafasnya yang berat ,ia tak mampu berucap sepatah katapun .
“minumlah.”ucap ali dengan tenang dan mengarahkan gelas berlapis alumunium ke mulutnya .ali menunjukkan sisi perhatiannya yang lebih kepada istrinya itu . tak lupa ali pun menyediakan dua butir obat berbentuk kapsul untuk diminum iklimah ,yang mampu membuat nafasnya menjadi lebih ringan .
Iklimah pun meminumnya ,bersama coklat panas yang dapat menghangatkan tubuhnya .
“beristirahatlah ,tubuhmu belum siap untuk menerima dinginnya salju .”ucap ali sambil mengelus rambut iklimah yang tertidur di atas sofa .ali menatap penuh wajah iklimah yang tersenyum padanya.
Perlahan mata iklimah berubah menjadi sayup dan menutup hingga tetesan air matanya terjatuh pada tangan ali yang berada di sampingnya .
“keyakinanku takkan pernah merubah esok menjadi madu yang pahit ,madu yang manis adalah milikmu untuk hari ini dan esok , allah member setetets cahaya pengangakat raguku untukmu bisa sembuh .”bisik ali pada iklimah yang masih mengalir .
Perlahan nafas iklimah mulai reda ,salju mlenyapkan harinya untuk sebuah keyakinan bisa bangkit menggapai kesembuhan . namun suasana berbuah pahit ,keberaniannya membuat iklimah meleleh tak berdaya di bawah dinginnya salju yang turun .
Ali sang suami tak pernah lelah menyemangati iklimah dan membuatnya yakin bahwa semua ada waktunya . salju turun dengan derasnya di luar ,namun tak sedikitpun menghentikkan aktivitas para penduduk jepang .
Hari berlalu di bawah naungan salju .iklimah dan ali terselimuti kehangatn dalam rumah . keduanya mengukir suatu kisah yang pahit dalam hari pertama pernikahannya .namun hari esok takkan jadi sia-sia .
Menurut berita perkiraan cuaca ,salju akan turun selama seminggu ke depan ini .jadi ,musim dingin masih akan dirasa sangat lama di jepang .
Hari terus berganti dengan tak hilangnya rasa dingin pada tubuh iklimah .ali terus bersabar menantikan kesembuhannya dan diapun terus menerus menumbuhkan rasa yakin pada diri iklimah .hingga suatu saat ketika salju tengah terhenti dan mataharipun terlihat terang dari sisi timur menerangi salju yang menumpuk di atas dedaunan dan tanah yang sudah tak terlihat warnanya.
Ali membangunkan iklimah dan memakaikannya pakaian hangat ,jilbab tebal berwarna orange ,sarung tangan hitam dan mujah sepatu kulit yang biasa digunakan pada musim dingin . ali mengajaknya berjalan-jalan keluar .
“aku malu pada matahari .”ucap iklimah yang sedang berjalan dengan di gandeng oleh ali .
“apa yang membuatmu malu .”sahut ali yang terlihat bingung dan menatap iklimah ,yang matanya terus memandangi sinar matahari .
“dia saja bisa bersinar saat musim dingin ,kenapa aku tidak .?”jelas iklimah dengan air mata yang mengalir di pipinya .ali hanya tersenyum mendengar ucapan iklimah dan dia tak berkata apa-apa, langkah kakinya terus berjalan menyusun setiap jalan yang terlapisi salju putih .
Semilir angin yng dingin terus terasa memeluk tubuh iklimah .walaupun baju tebal telah menyelimutinya .
Seketika langkah ali terhenti di depan pohon bunga sakura yang terdapat kursi berlapis kayu di depannya .
Ali memetik satu buah bunga sakura yang berwarna merah muda itu . lalu langkah kakinya berbalik menuju iklimah yang berduri terdiam melihat dan menanti ali yang entah apa yang akan dilakukanya .
“tersenyumlah seperti mentari itu .”ucap ali sambil memasngkan bunga sakura itu di sela sebelah kanan jilbabnya . iklimahpun tersenyum betapa sangat berbangganya dia bisa mendapatkan ali sebagai suaminya .
Tak lama dari itu cahaya mentari pun hilang ,satu persatu butiran salju menetes .
“tidak ,aku takut ..”ujar iklimah dengan terkaget ,setitik salju menetes di atas sarung tangannya ,ia langsung terjatuh dalam pelukan ali dengan tak sengaja dan ali pun memeluknya dengan hangat .
“jangan khawatir , jangan takut ….ada aku disini yang menyayangimu ,”ucap ali yang mencoba meyakinkan iklimah untuk bisa bersinar diantara dinginnya salju .
“tapi bagaimana …”ucap iklimah dengan ragu dan bingung terhadap apa yang dikatakan ali .
“berbaliklah ,dan tatap salju itu ,dan katakana apa yang ingin kau katakana .”ali pun member saran pada ikimah dan mencoba menggerakan hatinya .
Iklimah pun berbalik ,matanya menatap salju yang satu persatu menetes .ia tatap dengan fokus hingga ia memejamkan mata dan perlahan tangannya terlentang ke samping dan tiba-tiba kedua tangan ali menyempurnakannya dari belakang.
Mata iklimah terbuka dan berbalik ke belakang ,wajah iklimah pun bertabrakan dengan wajah ali yang menatapnya dengan yakin .
“lakukanlah apa kata hatimu “ucap ali dengan tersenyum pada iklimah .
Iklimahpun kembali berbalik dan memejamkan matanya .
“dekap aku wahai salju ,aku ingin bersinar layaknya mentari diantaramu .”bisik iklimah dengan terdengar oleh ali .
Disamping itu alipun berbisik dengan ucapannya sendiri …
“allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammadin thibbil qulbi wa dawaiha wa’afiatil abdani wasyifaiha wanuril abshori wa dhiya iha wa’ala alihi wasohbihi wasallim “ucapnya ali dengan penuhkeyakinan dan mata terpejam .
Saljupun turun makin deras menyirami iklimah dan ali berdua ,iklimah merasakan kehangata yang luar biasa saat ali membacakan shalawat syifa itu padanya .
Iklimah pun membuka matanya dengan terkaget hingga ia langsung berbalik dan memeluk ali .
Alipun tersenyum dan merangkulnya dengan erat .
“aku bisa menjadi mentari ,aku tak merasakan dingin sama sekali ,aku sembuh .”ujar iklimah dengan amat bahagia .dirinya terloncat-loncat diatas derasnya salju yang turun .wajahnya menatap langit dan bersyukur atas kehendaknya .
Sesekali iklimah menghamburkan salju-salju itu ke hadapan ali seolah mengajaknya untuk bermain dengan kebahagiaannya .
Iklimah tertawa bahagia dan alipun merasakan dirinya memang benar-benar akan sembuh .dan kini semuanya benar-benar terbukti ,iklimah dapat bernafas lega dan hidup bahagia bersama ali , dengan sembuhnya iklimah mereka takkan kembali ke Indonesia sebelum iklimah memenuhi tugasnya pada ali yang telah tertunda selama beberapa hari .
“ingat ,tugasmu belum selesai .”ucap ali sambil tersenyum meledek .
“aku adalah milikmu selamanya .”jawab iklimah yang terlihat amat bahagia.
Iklimahpun kembali memeluk ali dan ali pun merangkulnya dengan erat .keduanya tersenyum bahagia di bawah ribuan salju yang turun .
THE END
PENULIS : MAR’ATUSH SHOLIHAH
NAMA PENA : SUMMIT LABOR
KARYA : KE-2
“SEMOGA BERMANFAAT”




·          





Pendaftaran Online Santri Baru TP. 2020/2021

Assalamu'alaikum bpk/ibu calon santri Baru ponpes madarijul ulum Bandar Lampung. Berdasarkan hasil rapat pengurus ponpes madarijul ul...