Rabu, 27 April 2016

ADAT PEMILIK OBAT


Sumberejo, daerah yang masih terlumur oleh adat tradisioanalnya menyimpan setitik tempat pengobatan dengan jalan islam, beberapa terapi yang dilakukan beberapa kali, mewariskan kesembuhan yang berkala.
Hari itu terasa amat semangat membakar jiwa iklimah untuk menjemout setitik pengoabatan penuntun jalan kesembuhanya. Mobil dipanaskan dari pukul lima dini hari, iklimah pun bersiap menghias dirinya dengan pakaian tertutup rapih dengan hijab merah muad yang membuat wajahnya semakin bercahaya. Kantung mata yang hitam bibir yang terliahat puct dan raganya yang lemah lesu, sirna seketika dengan sebuah senyuman manis dibibir iklimah.
Paginya telah disediakan reyhan aditia untuk menuntun keberangkatanya. Bibirnya mengucap salam didepan daun pintu rumah iklimah. Seketika iklimah menyapa dengan senyum simpul diwajahnya. Umi dan abi pun ikut menyapa dari belakang, dengan cepat rey meraih tangan umi dan abi, ia kecup layaknya orang tua sendiri,
“apakah kau akan ikut dengan kami !” Tanya abi pada rey yang baru saja mencium tanganya.
“tidak bi, aku hanya bisa mendoakan iklimah sembuh dengan ini.” Ucap rey yang yerlihat akrab dengan abi layaknya ayah sendiri.
“yasudah, kami berangkat!” ujar abi sambil melangkah maju mendekati mobil dan menaikinya. Iklimah tak beranjak, dirinya masih terdiam didekat rey.
“jaga dirimu baik­-baik, aku yakin kau akan sembuh.”   Rey meyakini iklimah untuk sebuah kesembuhan yang kan dijalaninya .
“insyaallah .”jawab singkat iklimah  .
Langkahnya diiring rey hingga dirinya menaikki mobil yang bertujuan ke sumberejo .
Hati iklimah selalu menggerutu ketika dirinya telah bertemu dengan rey ,ia merasa heran dan bingung dengan dirinya ,dengan apa yang terjadi .
“ya rabb , mengapa hati ini amat sulit menerimanya ,mengapa hati ini selalu menolak akan dirinya menjadi kekasihku ,apa yang ada diantara kami .”ucapnya iklimah sendiri dengan duduk  menyender di dalam mobil dirinya berbisik sendiri .
Pikirannya saat itu langsung tertuju pada reyhan aditia yang hanya memiliki seorang ibu . ia ditinggal ayahnya ketika berumur lima tahun . rey adalah anak tunggal ,ia tak pernah mengetahui wajah ayahnya karena setiap ia meminta ibunya untuk menceritakan sosok ayahnya , air mata ibunya selslu menetes dengan derasnya .
Ia tak kuasa melihat ibunya yang seperti itu . rey merasa nyaman hidup dengan keluarga iklimah ,dirinya merasa mereka adalah keluarga besarnya .
“iklimah ,limah….!”panggil umi dari depan mobil .
“iya mi..”iklimah menjawab dengan kagetnya .ia kabur dalam lamunannya tentang rey .
“apa yang kau pikirkan ?..tanya lagi umi yang hanya terdengar suaranya  .
“tidak umi ,apakah perjalanannya masih jauh ,umi !”Tanya iklimahdengan nada lembutnya  .
“dua jam lagi mungkin .”jawab abi dengan singkat pada iklimah .
Perjalanan yang jauh membuat iklimah lelah dan tertidur pulas di dalam mobil .abi terus memutarbalikkan setirnya hingga ke sumberejo .
Dua jam perjalanan di tempuhnya ,dua jam pula iklimah tertidur dengan pulasnya . mobil terhenti mata iklimahpun terbuka dengan sendirinya terlihat dari sudut kaca mobil sebuah rumah adat dengan halamannya yang masih tumbuh pohon-pohon besar yang membuat sekelilingnya asri dan bersih , hijaunya dedaunan membuat semua mata terbuka ketika melihat keindahannya .
Perlahan pintu mobl dibuka dan mulai menginjakkan kaki di atas tanah yang subur ,tak terlihat satu orangpun disana .
“ayo !” abi mengajak dengan menuntun iklimah bersama umi untuk masuk ke dalam rumah adat itu .
“apakkah benar ini tempatnya abi ?”Tanya umi dengan merasa heran melihat tempat pengobatan yang begitu sepi seperti tak ada satu kehidupanpun .
“aku yakin.”jawab abi dengan amat yakin .langkah kakinya berjalan menuju depan pintu ,tiba-tiba terdengar suara keramaian ,entah darimana suara keramaian itu berasal .
Iklimah, umi , dan abi merasa bingung dengan apa yang sedang mereka hadapi .
“sugeng rawuh ….”ucap dua orang berpakaian adat jawa dengan blangkon berlukis batik di kepala  .membuka pintu member sambutan .
“luar biasa , luasnya isi rumah adat itu ,abi,umi.,dan iklimah menatap setiap sudut yang dilihatnya .
Pintu yang berderet di samping kanan layaknya kamar-kamar di rumah sakit .sungguh mengejutkan ,terlihat beberapa kali orangyang keluar masuk dari pintu-pintu itu .
“monggo pak.”ucap pelayan mempersilahkan iklimah untuk masuk ruangan pengobatan di sebelah kiri .iklimah tersenyum dengan diantarkan umi dan abi masuk kedalamnya . terlihat seorang laki-laki tinggi berpakaian putih koko ,celana hitam panjang dan peci hitam layaknya seorang ustadz .
“assalamu’alaikum ?” ucap salam abi .
“wa’alaikumussalam .silahkan duduk pak,..”jawab laki-laki itu ,ketiganya duduk di kursi tamu . di dalam ruangan itu, laki-laki itu memperkenalkan dirinya.
“saya mizan.biasa dipanggil room disini ,maklum memang sudah adatnya . hanya orang-orang yang meyakini saja yang bisa datang kesini ,apa keluhanmu nak ?” ujar room itu dengan bicara yang tegas dan sopan .
“anak saya mengidap asma sudah 19 tahun .”jawab abi berbicara terhadapnya .
“ulurkan tanganmu..”ucap romo dengan menarik tangan iklimah dan menyentuhnya beberapa kali .dengan lihainya tangan romo itu memijat daerah-daerah tertentu pada tangan iklimah .
“yo, ambilkan satu paket obat untuk pengidap asma .”panggil romo pada seorang laki-laki yang bernama aryo .
Laki-laki itu kembali dengan membawa kotak hitam dengan berisi 4 buah botol yang berisikan cairan berbeda warna.
“minumlah obat ini satu kali dalam sehari dua sendok makan ,ini obat tradisional buatan santri yang mengelola tempat ini termasuk saya .mereka mencoba menggali suatu hal yang baru untuk diperpadukan dengan istiadat disini, maka jangan merasa aneh dengan keberadaan kami disini ,keyakinanmu amat tinggi untuk kau bisa sembuh. Semoga lekas sembuh!”ujar romo dengan pesan dan nasehatnya kepada iklimah .
“terimakasih pak .”jawab iklimah dengan senyum di wajahnya .
Setelah tujuannya telah tercapai ,iklimah bersama keluarga segera kembali ke Jakarta . mereka melakukan perjalanan malam tanpa beristirahat  sejenak .
Dengan tenang iklimah menaikki mobil dengan membawa bekal obat untuk kesembuhan asmanya ,tak terhitung satu jam ia berada di rumah adat sumberejo itu .
setelah obat sudah di tangan maka  langkah kakipun bergegas mendekati mobil dan kembali menelusuri jejak yang telah di lewati. Berat amat terasa ketika tangan hendak menarik daun pintu rumah adat itu dan hendak menutupnya meninggalkan tradisi asal sumberejo yang baru saja terlintas dalam pikiranya.
satu langkah ia menjauh dari pintu, iklimah membalikan badan untuk menatap rumah adat itu. Tatapanya terus ia buka seoalah mencoba untuk menyimpanya dalam memory hidupnya.
“santri dan adat.’ Bisiknya iklimah dengan mengakhiri tatapanya, badanya berbalik dan….
“affan ukhti…” ucap laki-laki putih betubuh tinggi dengan wajah layak orang arab berkata pada iklimah yang tak senggaja menabraknya.
 “ never mind… “ jawab iklimah dengan keahlian bahadsa inggrisnya.
“what’s your name ?” Tanya laki-laki itu.
 “iklimah.”singkatnya ia mejawab dengan mata yang terus melirik mencari umi dan abi yang sudah tak berada di depannya .
Laki-laki itu terus menatap iklimah yang terlihat kebingungan . iklimahpun berjalan maju tanpa pamit pada laki-laki itu .
“hey…!ismi ali .”teriak laki-laki itu hingga langkah iklimah terhenti sejenak dan kembali berjalan mencari umiumi dan abinya yang menunggu di dalam mobil .
Baru saja tersadar ketika iklimah menjatuhkan tubuhnya di atas jok mobilnya, bahwa laki-laki itu ingin memperkenalkan dirinya .seingat iklimah ,ali namanya .
“ali , sepertinya dia santri .!”ucap iklimah disamping lamunannya yang terbayang sosok sli yang baru saja ia temui di depan rumah adat dengan menggunakan baju koko berwarna coklat dan sarung hitam polos dengan peci hitam diatas kepalanya ,.
Wajahnya terbayang amat ramah di depannya .cara menyapanya pun amat lembut . namun sayang ,iklimah melewatkan moment itu, ia terlalu focus dengan keberadaan orangtua yang tiba-tiba menghilang dari hadapannya .

karya : MAR’ATUSH SHOLIHAH
1 2 ... 4 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendaftaran Online Santri Baru TP. 2020/2021

Assalamu'alaikum bpk/ibu calon santri Baru ponpes madarijul ulum Bandar Lampung. Berdasarkan hasil rapat pengurus ponpes madarijul ul...