Sumberejo, daerah yang masih
terlumur oleh adat tradisioanalnya menyimpan setitik tempat pengobatan dengan
jalan islam, beberapa terapi yang dilakukan beberapa kali, mewariskan
kesembuhan yang berkala.
Hari itu terasa amat semangat
membakar jiwa iklimah untuk menjemout setitik pengoabatan penuntun jalan
kesembuhanya. Mobil dipanaskan dari pukul lima dini hari, iklimah pun bersiap
menghias dirinya dengan pakaian tertutup rapih dengan hijab merah muad yang
membuat wajahnya semakin bercahaya. Kantung mata yang hitam bibir yang
terliahat puct dan raganya yang lemah lesu, sirna seketika dengan sebuah
senyuman manis dibibir iklimah.
Paginya telah disediakan reyhan
aditia untuk menuntun keberangkatanya. Bibirnya mengucap salam didepan daun
pintu rumah iklimah. Seketika iklimah menyapa dengan senyum simpul diwajahnya.
Umi dan abi pun ikut menyapa dari belakang, dengan cepat rey meraih tangan umi
dan abi, ia kecup layaknya orang tua sendiri,
“apakah kau akan ikut dengan kami
!” Tanya abi pada rey yang baru saja mencium tanganya.
“tidak bi, aku hanya bisa
mendoakan iklimah sembuh dengan ini.” Ucap rey yang yerlihat akrab dengan abi
layaknya ayah sendiri.
“yasudah, kami berangkat!” ujar
abi sambil melangkah maju mendekati mobil dan menaikinya. Iklimah tak beranjak,
dirinya masih terdiam didekat rey.
“jaga dirimu baik-baik, aku
yakin kau akan sembuh.” Rey meyakini
iklimah untuk sebuah kesembuhan yang kan dijalaninya .
“insyaallah .”jawab singkat
iklimah .
Langkahnya diiring rey hingga
dirinya menaikki mobil yang bertujuan ke sumberejo .
Hati iklimah selalu menggerutu
ketika dirinya telah bertemu dengan rey ,ia merasa heran dan bingung dengan
dirinya ,dengan apa yang terjadi .
“ya rabb , mengapa hati ini amat
sulit menerimanya ,mengapa hati ini selalu menolak akan dirinya menjadi
kekasihku ,apa yang ada diantara kami .”ucapnya iklimah sendiri dengan
duduk menyender di dalam mobil dirinya
berbisik sendiri .
Pikirannya saat itu langsung
tertuju pada reyhan aditia yang hanya memiliki seorang ibu . ia ditinggal
ayahnya ketika berumur lima tahun . rey adalah anak tunggal ,ia tak pernah
mengetahui wajah ayahnya karena setiap ia meminta ibunya untuk menceritakan
sosok ayahnya , air mata ibunya selslu menetes dengan derasnya .
Ia tak kuasa melihat ibunya yang
seperti itu . rey merasa nyaman hidup dengan keluarga iklimah ,dirinya merasa
mereka adalah keluarga besarnya .
“iklimah ,limah….!”panggil umi
dari depan mobil .
“iya mi..”iklimah menjawab dengan
kagetnya .ia kabur dalam lamunannya tentang rey .
“apa yang kau pikirkan ?..tanya
lagi umi yang hanya terdengar suaranya .
“tidak umi ,apakah perjalanannya
masih jauh ,umi !”Tanya iklimahdengan nada lembutnya .
“dua jam lagi mungkin .”jawab abi
dengan singkat pada iklimah .
Perjalanan yang jauh membuat
iklimah lelah dan tertidur pulas di dalam mobil .abi terus memutarbalikkan
setirnya hingga ke sumberejo .
Dua jam perjalanan di tempuhnya
,dua jam pula iklimah tertidur dengan pulasnya . mobil terhenti mata iklimahpun
terbuka dengan sendirinya terlihat dari sudut kaca mobil sebuah rumah adat
dengan halamannya yang masih tumbuh pohon-pohon besar yang membuat
sekelilingnya asri dan bersih , hijaunya dedaunan membuat semua mata terbuka
ketika melihat keindahannya .
Perlahan pintu mobl dibuka dan
mulai menginjakkan kaki di atas tanah yang subur ,tak terlihat satu orangpun
disana .
“ayo !” abi mengajak dengan
menuntun iklimah bersama umi untuk masuk ke dalam rumah adat itu .
“apakkah benar ini tempatnya abi
?”Tanya umi dengan merasa heran melihat tempat pengobatan yang begitu sepi
seperti tak ada satu kehidupanpun .
“aku yakin.”jawab abi dengan amat
yakin .langkah kakinya berjalan menuju depan pintu ,tiba-tiba terdengar suara
keramaian ,entah darimana suara keramaian itu berasal .
Iklimah, umi , dan abi merasa
bingung dengan apa yang sedang mereka hadapi .
“sugeng rawuh ….”ucap dua orang
berpakaian adat jawa dengan blangkon berlukis batik di kepala .membuka pintu member sambutan .
“luar biasa , luasnya isi rumah
adat itu ,abi,umi.,dan iklimah menatap setiap sudut yang dilihatnya .
Pintu yang berderet di samping kanan
layaknya kamar-kamar di rumah sakit .sungguh mengejutkan ,terlihat beberapa
kali orangyang keluar masuk dari pintu-pintu itu .
“monggo pak.”ucap pelayan
mempersilahkan iklimah untuk masuk ruangan pengobatan di sebelah kiri .iklimah
tersenyum dengan diantarkan umi dan abi masuk kedalamnya . terlihat seorang
laki-laki tinggi berpakaian putih koko ,celana hitam panjang dan peci hitam
layaknya seorang ustadz .
“assalamu’alaikum ?” ucap salam
abi .
“wa’alaikumussalam .silahkan duduk
pak,..”jawab laki-laki itu ,ketiganya duduk di kursi tamu . di dalam ruangan
itu, laki-laki itu memperkenalkan dirinya.
“saya mizan.biasa dipanggil room
disini ,maklum memang sudah adatnya . hanya orang-orang yang meyakini saja yang
bisa datang kesini ,apa keluhanmu nak ?” ujar room itu dengan bicara yang tegas
dan sopan .
“anak saya mengidap asma sudah 19
tahun .”jawab abi berbicara terhadapnya .
“ulurkan tanganmu..”ucap romo
dengan menarik tangan iklimah dan menyentuhnya beberapa kali .dengan lihainya
tangan romo itu memijat daerah-daerah tertentu pada tangan iklimah .
“yo, ambilkan satu paket obat
untuk pengidap asma .”panggil romo pada seorang laki-laki yang bernama aryo .
Laki-laki itu kembali dengan
membawa kotak hitam dengan berisi 4 buah botol yang berisikan cairan berbeda
warna.
“minumlah obat ini satu kali
dalam sehari dua sendok makan ,ini obat tradisional buatan santri yang
mengelola tempat ini termasuk saya .mereka mencoba menggali suatu hal yang baru
untuk diperpadukan dengan istiadat disini, maka jangan merasa aneh dengan
keberadaan kami disini ,keyakinanmu amat tinggi untuk kau bisa sembuh. Semoga
lekas sembuh!”ujar romo dengan pesan dan nasehatnya kepada iklimah .
“terimakasih pak .”jawab iklimah
dengan senyum di wajahnya .
Setelah tujuannya telah tercapai
,iklimah bersama keluarga segera kembali ke Jakarta . mereka melakukan
perjalanan malam tanpa beristirahat
sejenak .
Dengan tenang iklimah menaikki
mobil dengan membawa bekal obat untuk kesembuhan asmanya ,tak terhitung satu
jam ia berada di rumah adat sumberejo itu .
setelah obat sudah di tangan maka
langkah kakipun bergegas mendekati mobil
dan kembali menelusuri jejak yang telah di lewati. Berat amat terasa ketika
tangan hendak menarik daun pintu rumah adat itu dan hendak menutupnya
meninggalkan tradisi asal sumberejo yang baru saja terlintas dalam pikiranya.
satu langkah ia menjauh dari
pintu, iklimah membalikan badan untuk menatap rumah adat itu. Tatapanya terus
ia buka seoalah mencoba untuk menyimpanya dalam memory hidupnya.
“santri dan adat.’ Bisiknya
iklimah dengan mengakhiri tatapanya, badanya berbalik dan….
“affan ukhti…” ucap laki-laki
putih betubuh tinggi dengan wajah layak orang arab berkata pada iklimah yang
tak senggaja menabraknya.
“ never mind… “ jawab iklimah dengan keahlian
bahadsa inggrisnya.
“what’s your name ?” Tanya
laki-laki itu.
“iklimah.”singkatnya ia mejawab dengan mata
yang terus melirik mencari umi dan abi yang sudah tak berada di depannya .
Laki-laki itu terus menatap
iklimah yang terlihat kebingungan . iklimahpun berjalan maju tanpa pamit pada
laki-laki itu .
“hey…!ismi ali .”teriak laki-laki
itu hingga langkah iklimah terhenti sejenak dan kembali berjalan mencari umiumi
dan abinya yang menunggu di dalam mobil .
Baru saja tersadar ketika iklimah
menjatuhkan tubuhnya di atas jok mobilnya, bahwa laki-laki itu ingin
memperkenalkan dirinya .seingat iklimah ,ali namanya .
“ali , sepertinya dia santri
.!”ucap iklimah disamping lamunannya yang terbayang sosok sli yang baru saja ia
temui di depan rumah adat dengan menggunakan baju koko berwarna coklat dan
sarung hitam polos dengan peci hitam diatas kepalanya ,.
Wajahnya terbayang amat ramah di
depannya .cara menyapanya pun amat lembut . namun sayang ,iklimah melewatkan
moment itu, ia terlalu focus dengan keberadaan orangtua yang tiba-tiba
menghilang dari hadapannya .
karya : MAR’ATUSH SHOLIHAH
karya : MAR’ATUSH SHOLIHAH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar