Jumat, 26 Juni 2020

Pendaftaran Online Santri Baru TP. 2020/2021

Assalamu'alaikum bpk/ibu calon santri Baru ponpes madarijul ulum Bandar Lampung.

Berdasarkan hasil rapat pengurus ponpes madarijul ulum terkait wabah covid-19 bahwa:
1. Pendaftaran Santri Baru bisa dilakukan via online di : https://forms.gle/JXinfqwqbjRXztB56

2. Biaya pendaftaran juga bisa ditransfer pada rekening
BSM 7139767203 Atas Nama Rekening Giro Ponpes Madarijul Ulum

3. Bukti transfer biaya pendaftaran tolong kirimkan ke group WA ini atau japri ke no WA: 081278582804 ats nama safrulloh

Demikian atas perhatian bpk / ibu kami ucapkan Trima kasih

Wassalam



Kamis, 21 Februari 2019

Pondok Pesantren Salafiyah Tahfidzul Qur'an Madarijul Ulum Bandar Lampung Menerima Santri Baru TP. 2019/2020

ayooo....daftarkan putra-putri bapak/ibu ke pondok pesantren madarijul ulum bandar lampung.
Sekretariat Pendaftaran: JL. WA Rahman Kelurahan Batu Putuk Kecamatan Teluk Betung Barat Kota Bandar Lampung



Rabu, 27 April 2016

ADAT PEMILIK OBAT


Sumberejo, daerah yang masih terlumur oleh adat tradisioanalnya menyimpan setitik tempat pengobatan dengan jalan islam, beberapa terapi yang dilakukan beberapa kali, mewariskan kesembuhan yang berkala.
Hari itu terasa amat semangat membakar jiwa iklimah untuk menjemout setitik pengoabatan penuntun jalan kesembuhanya. Mobil dipanaskan dari pukul lima dini hari, iklimah pun bersiap menghias dirinya dengan pakaian tertutup rapih dengan hijab merah muad yang membuat wajahnya semakin bercahaya. Kantung mata yang hitam bibir yang terliahat puct dan raganya yang lemah lesu, sirna seketika dengan sebuah senyuman manis dibibir iklimah.
Paginya telah disediakan reyhan aditia untuk menuntun keberangkatanya. Bibirnya mengucap salam didepan daun pintu rumah iklimah. Seketika iklimah menyapa dengan senyum simpul diwajahnya. Umi dan abi pun ikut menyapa dari belakang, dengan cepat rey meraih tangan umi dan abi, ia kecup layaknya orang tua sendiri,
“apakah kau akan ikut dengan kami !” Tanya abi pada rey yang baru saja mencium tanganya.
“tidak bi, aku hanya bisa mendoakan iklimah sembuh dengan ini.” Ucap rey yang yerlihat akrab dengan abi layaknya ayah sendiri.
“yasudah, kami berangkat!” ujar abi sambil melangkah maju mendekati mobil dan menaikinya. Iklimah tak beranjak, dirinya masih terdiam didekat rey.
“jaga dirimu baik­-baik, aku yakin kau akan sembuh.”   Rey meyakini iklimah untuk sebuah kesembuhan yang kan dijalaninya .
“insyaallah .”jawab singkat iklimah  .
Langkahnya diiring rey hingga dirinya menaikki mobil yang bertujuan ke sumberejo .
Hati iklimah selalu menggerutu ketika dirinya telah bertemu dengan rey ,ia merasa heran dan bingung dengan dirinya ,dengan apa yang terjadi .
“ya rabb , mengapa hati ini amat sulit menerimanya ,mengapa hati ini selalu menolak akan dirinya menjadi kekasihku ,apa yang ada diantara kami .”ucapnya iklimah sendiri dengan duduk  menyender di dalam mobil dirinya berbisik sendiri .
Pikirannya saat itu langsung tertuju pada reyhan aditia yang hanya memiliki seorang ibu . ia ditinggal ayahnya ketika berumur lima tahun . rey adalah anak tunggal ,ia tak pernah mengetahui wajah ayahnya karena setiap ia meminta ibunya untuk menceritakan sosok ayahnya , air mata ibunya selslu menetes dengan derasnya .
Ia tak kuasa melihat ibunya yang seperti itu . rey merasa nyaman hidup dengan keluarga iklimah ,dirinya merasa mereka adalah keluarga besarnya .
“iklimah ,limah….!”panggil umi dari depan mobil .
“iya mi..”iklimah menjawab dengan kagetnya .ia kabur dalam lamunannya tentang rey .
“apa yang kau pikirkan ?..tanya lagi umi yang hanya terdengar suaranya  .
“tidak umi ,apakah perjalanannya masih jauh ,umi !”Tanya iklimahdengan nada lembutnya  .
“dua jam lagi mungkin .”jawab abi dengan singkat pada iklimah .
Perjalanan yang jauh membuat iklimah lelah dan tertidur pulas di dalam mobil .abi terus memutarbalikkan setirnya hingga ke sumberejo .
Dua jam perjalanan di tempuhnya ,dua jam pula iklimah tertidur dengan pulasnya . mobil terhenti mata iklimahpun terbuka dengan sendirinya terlihat dari sudut kaca mobil sebuah rumah adat dengan halamannya yang masih tumbuh pohon-pohon besar yang membuat sekelilingnya asri dan bersih , hijaunya dedaunan membuat semua mata terbuka ketika melihat keindahannya .
Perlahan pintu mobl dibuka dan mulai menginjakkan kaki di atas tanah yang subur ,tak terlihat satu orangpun disana .
“ayo !” abi mengajak dengan menuntun iklimah bersama umi untuk masuk ke dalam rumah adat itu .
“apakkah benar ini tempatnya abi ?”Tanya umi dengan merasa heran melihat tempat pengobatan yang begitu sepi seperti tak ada satu kehidupanpun .
“aku yakin.”jawab abi dengan amat yakin .langkah kakinya berjalan menuju depan pintu ,tiba-tiba terdengar suara keramaian ,entah darimana suara keramaian itu berasal .
Iklimah, umi , dan abi merasa bingung dengan apa yang sedang mereka hadapi .
“sugeng rawuh ….”ucap dua orang berpakaian adat jawa dengan blangkon berlukis batik di kepala  .membuka pintu member sambutan .
“luar biasa , luasnya isi rumah adat itu ,abi,umi.,dan iklimah menatap setiap sudut yang dilihatnya .
Pintu yang berderet di samping kanan layaknya kamar-kamar di rumah sakit .sungguh mengejutkan ,terlihat beberapa kali orangyang keluar masuk dari pintu-pintu itu .
“monggo pak.”ucap pelayan mempersilahkan iklimah untuk masuk ruangan pengobatan di sebelah kiri .iklimah tersenyum dengan diantarkan umi dan abi masuk kedalamnya . terlihat seorang laki-laki tinggi berpakaian putih koko ,celana hitam panjang dan peci hitam layaknya seorang ustadz .
“assalamu’alaikum ?” ucap salam abi .
“wa’alaikumussalam .silahkan duduk pak,..”jawab laki-laki itu ,ketiganya duduk di kursi tamu . di dalam ruangan itu, laki-laki itu memperkenalkan dirinya.
“saya mizan.biasa dipanggil room disini ,maklum memang sudah adatnya . hanya orang-orang yang meyakini saja yang bisa datang kesini ,apa keluhanmu nak ?” ujar room itu dengan bicara yang tegas dan sopan .
“anak saya mengidap asma sudah 19 tahun .”jawab abi berbicara terhadapnya .
“ulurkan tanganmu..”ucap romo dengan menarik tangan iklimah dan menyentuhnya beberapa kali .dengan lihainya tangan romo itu memijat daerah-daerah tertentu pada tangan iklimah .
“yo, ambilkan satu paket obat untuk pengidap asma .”panggil romo pada seorang laki-laki yang bernama aryo .
Laki-laki itu kembali dengan membawa kotak hitam dengan berisi 4 buah botol yang berisikan cairan berbeda warna.
“minumlah obat ini satu kali dalam sehari dua sendok makan ,ini obat tradisional buatan santri yang mengelola tempat ini termasuk saya .mereka mencoba menggali suatu hal yang baru untuk diperpadukan dengan istiadat disini, maka jangan merasa aneh dengan keberadaan kami disini ,keyakinanmu amat tinggi untuk kau bisa sembuh. Semoga lekas sembuh!”ujar romo dengan pesan dan nasehatnya kepada iklimah .
“terimakasih pak .”jawab iklimah dengan senyum di wajahnya .
Setelah tujuannya telah tercapai ,iklimah bersama keluarga segera kembali ke Jakarta . mereka melakukan perjalanan malam tanpa beristirahat  sejenak .
Dengan tenang iklimah menaikki mobil dengan membawa bekal obat untuk kesembuhan asmanya ,tak terhitung satu jam ia berada di rumah adat sumberejo itu .
setelah obat sudah di tangan maka  langkah kakipun bergegas mendekati mobil dan kembali menelusuri jejak yang telah di lewati. Berat amat terasa ketika tangan hendak menarik daun pintu rumah adat itu dan hendak menutupnya meninggalkan tradisi asal sumberejo yang baru saja terlintas dalam pikiranya.
satu langkah ia menjauh dari pintu, iklimah membalikan badan untuk menatap rumah adat itu. Tatapanya terus ia buka seoalah mencoba untuk menyimpanya dalam memory hidupnya.
“santri dan adat.’ Bisiknya iklimah dengan mengakhiri tatapanya, badanya berbalik dan….
“affan ukhti…” ucap laki-laki putih betubuh tinggi dengan wajah layak orang arab berkata pada iklimah yang tak senggaja menabraknya.
 “ never mind… “ jawab iklimah dengan keahlian bahadsa inggrisnya.
“what’s your name ?” Tanya laki-laki itu.
 “iklimah.”singkatnya ia mejawab dengan mata yang terus melirik mencari umi dan abi yang sudah tak berada di depannya .
Laki-laki itu terus menatap iklimah yang terlihat kebingungan . iklimahpun berjalan maju tanpa pamit pada laki-laki itu .
“hey…!ismi ali .”teriak laki-laki itu hingga langkah iklimah terhenti sejenak dan kembali berjalan mencari umiumi dan abinya yang menunggu di dalam mobil .
Baru saja tersadar ketika iklimah menjatuhkan tubuhnya di atas jok mobilnya, bahwa laki-laki itu ingin memperkenalkan dirinya .seingat iklimah ,ali namanya .
“ali , sepertinya dia santri .!”ucap iklimah disamping lamunannya yang terbayang sosok sli yang baru saja ia temui di depan rumah adat dengan menggunakan baju koko berwarna coklat dan sarung hitam polos dengan peci hitam diatas kepalanya ,.
Wajahnya terbayang amat ramah di depannya .cara menyapanya pun amat lembut . namun sayang ,iklimah melewatkan moment itu, ia terlalu focus dengan keberadaan orangtua yang tiba-tiba menghilang dari hadapannya .

karya : MAR’ATUSH SHOLIHAH
1 2 ... 4 5

SABAR PENOPANG ASMANYA


Malam yang amat dingin kini terlarut dalam kegelapan bersama derasnya angin yang berhembus pekat menusuk tubuh seorang gadis pengidap asma itu , sesekali dadanya terbungkam , berdetak amat kencang mencari udara yang mampu meringankan beban pernapasannya ,iklimah merasakan begitu berat, hingga ia bernafas dengan mulut  dan mengeluarkan bunyi pertanda meminta pertolongan akan nafasnya yang tiba-tiba hilang entah kemana . iklimah mencoba bertahan untuk tak bergantung pada obat yang ia milikki . namun cara itu tak mampu melukiskan senyuman pada dirinya , yang membuat nafasnya menjadi ringan layaknya orang normal .
 iklimah tak pernah patah semangat ,dirinya selalu mencoba untuk menjadi seperti orang normal yang mampu bernafas tanpa sesekali kambuh ,namun seringkali iklimah bertingkah layaknya lilin ,ketika ia mencoba untuk menjadi terang layaknya lampu, tak ia sadari usahanya untuk membuat cahaya seterang lampu membuat dirinya meleleh tak berdaya .
semangat iklimah yang begitu tinggi membuat dirinya lupa akan kemampuan raganya yang belum bisa  hidup normal layak umi dan abinya . iklimah hanya mampu berdoa dan meyakini bahwa dirinya akan terbebas dari asma yang melukiskan kepahitan dalam hidupnya . iklimah tak ingin meneteskan air mata di hadapan umi dan abinya .Ketika dirinya sedang terisak dengan nafasnya yang berat.
“umi,usiaku tlah mencapai 19 tahun, namun asmaku semakin akut tak hilang sedikitpun .”ucap iklimah dengan senyum menahan nafas yang amat berat ia rasakan .
“semua penyakit itu diturunkan bersama obatnya, sebagai penyembuhan. Tugasmu hanya bersabar ,berdoa dan meyakini bahwa kau akan sembuh ,sayang !!!!!!!!!!” jawab umi dengan nasihat yang selalu diucapkan pada iklimah, perlahan tangan umi mengusap rambut iklimah dngan kasih sayang .
“umi kapan hidup limah akan terasa manis layaknya madu!”ujar limah dengan nafas yang masih terputus-putus.
“limah,semua ada waktunya .beristirahatlah, esok kau akan berobat ke sumberejo bersama umi dan abi.”jelas umi yang hendak memberhentikan bicaranya yang terdengar sangatberat keluar dari kedua belah bibirnya .
Iklimah hanya mampu tersenyum menatap umi yang masih ada di samping tubuhnya yang terkapar tak berdaya .
Iklimah mulai merasa tenang dan perlahan reda karena bantuan obat asal American yang ia minum . Matanya mulai lelah setelah setengah jam menahan rasa sakit di dada yang tak sekali dua kali ia rasakan dengan pahit. Terpejamlah iklimah dalam pelukan angin malm yang berhembus amat kencang menusujk tubuhnya .
Umi mengulurkan sehelai kain tebal ke seluruh tubuhnya yang telah terlapis switter coklat pember kehangatan dalam tubuhnya. Umi pergi dari kamar iklimah setelah memberikan satu kecupan pada malam indah dalam lelapnya pejaman mata iklimah .
Esok iklimah akan berangkat menuju sumberejo untuk melakukan pengobatan , selama beberapa hari  tempat tinggalnya di Jakarta akan ia tinggalkan termasuk sosok rey yang saat ini selalu mendambakan iklimah .
Mata iklimah yang terpejam dengan lelah tak mampu terus menutup ketika waktu menunjukkan pukul 02.30 pagi , kegelapan sebelum datang mentari tak pernah lupa dengan raga iklimah yang lemah lesu , doa penutup matannya tak pernah lelah untuk mencoba membangunkan iklimah dalam tidur pulasnya .raganya yang masih lelah tak berdaya bangkit untuk mengadu dan berdoa pada sang pencipta . ia uraikan semua lantunan harapannya dalam beberapa rakaat di sepertiga malam itu. Ia sertakan air mata yang menjadi wali akan sebuah cita-cita iklimah untuk sebuah kesembuan dalam dirinya .
19 tahun ia rasakan pahit di dada, dengan bernafas menggunakan alat bantu pernafasan miliknya. Namun dengan berpegang teguh pada rasa sabar iklimah tumbuh dengan semangat hidup yang tinggi.
Ia tak pernah lelah menantikan kesembuhan pada dirinya pada suatu saat nanti.
“obatku ada padamu ya rabb. Ragaku adalah milikmu, dan cintaku adalah karyamu, kuharapkan akan melebur menjadi satu dalam diriku,sebuah kesembuhan,kekuatan dan kepuasan batinku untuk seseorang yang kusayangi, entah dimana? Antarkan dirinya pada diriku untuk meleburkan kisah yang membuatku tersiksa sepedih ini. Kau adalah asyifa ku meyakini kesembuhanku ada waktunya ya rabb.”jelas iklimah dalam doa disepertiga malamnya.
Ia mengadu diatas sejadah merah tebal miliknya. Ditenah dinginya malam. Iklimah tenang bersama kain solat diatas sajadah merah yang menghangatkan dirinya. Dalam doa ia meminta kesembuhan dan kekuatan serta kisah cinta yang ia jalani, ia harapkan luntur dengan adanya pendamping baru dihatinya. Usahanya untuk menyayangi rey tak mampu teruraikan dengan tenang. Ia tak kuasa menahan dirinya untuk terus mengalirkan air mata karena kesakitan dalam batinya.
Iklimah hanya mampu menyerahkan dirinya dalam doa harapanya. Keputusan sang pencipta adalah yang terbaik untuk dirinya.
Kesabaran yang iklimah genggam tak pernah luntur hingga saat ini. Dirinya terus mengukir bintang diatas langit.
karya : MAR’ATUSH SHOLIHAH
1...3 4 5

“DEKAP AKU WAHAI SALJU”

“Summit labor”
“DEKAP AKU WAHAI SALJU”
PROLOG
                Senja tak berawan terukir dengan indah ketika iklimah terduduk berjauhan di halaman rumah bersama rey sang laki –laki yang mendambakannya saat ini iklimah hanya duduk tertunduk dan diam menahan rasa , rey pun menatap rasa pada gadis yang ia dambakan terdiam sepi di depannya . tak sedikitpun iklimah melirik pada sosok rey dan melemparkan senyuman padanya .
“Rasaku ada pada cincin emas ini !” tangan reypun terulur kehadapan wajah iklimah yang hamper saja mengenai jilbab biru yang dikenakannya .
“Tangan dekatkan itu padaku .” jawab iklimah dengan mengangkat tangan dan menjauhkan kotak cincin yang diarahkan di depannya .
“Apa yang menjadi penghalang dalam pikiranmu ?” ujar rey dengan merasa aneh melihat tingkah iklimah akhir-akhir ini .
“Berikan itu padaku ketika ada waliku di sampingku.” Jawab singkatnya iklimah dengan mengangkat wajahnya yang membawa senyuman ke arah rey yang berada di depannya . rey pun balas tersenyum dan denga cepat ia tutup kotak cincin itu . keberadaan rey tak hanya terdiam dirinya beranjak pergi dari halaman rumah iklimah, menjauh darinya menaikki motor ninja merah miliknya .
Seketika rey pergi ,iklimah terduduk sendiri  di kursi tamu berlapiskan kayu tebal berwarna coklat ,dirinya terdiam ,dan sekejap air matanya dengan deras mengalir .
.               Kedua tangannya menopang dagu dengan sesekalim ia mengusap pipi yang berlumuran air matanya . dirinya hanya terisak tak berdaya ,tak mengerti apa yang terjadi ,tak mengerti apa yang dirasa saat ini ,dan begitu terasa menyakitkan rasanya ketika dirinya di ulurkan sebuah cincin emas dari sosok yang slalu setia bersamanya ,dan kini berniat mengakhirinya de3ngan khitbah .
“Tak kurasa bahagia saat bersamammu .tak sedikitpun ku mampu tersenyum dengan hatiku di hadapanmu .begitu tersiksa ketika ku tak menyayangimu ,namun ku mencoba tuk menyayangimu ,untuk menghargai perasaanmu yang amat besar terhadapku ,aku tak ingin membuat hatimu terluka ,namun hatiku kurelakan terluka .”Ucap iklimah yang masih terisak sendiri dengan perasaan yang amat membuatnya merasakan kepahitan dalam kisah cinta yang tak pernah ia inginkan sebelumnya . 
karya : MAR’ATUSH SHOLIHAH

Selanjutnya 2 3 4 5 1

Pendaftaran Online Santri Baru TP. 2020/2021

Assalamu'alaikum bpk/ibu calon santri Baru ponpes madarijul ulum Bandar Lampung. Berdasarkan hasil rapat pengurus ponpes madarijul ul...